Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara
 

Bill Gates dan Kebangkitan
TIK Nasional

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Oleh: Krisna Nugraha
Founder Cleon Consulting
knugraha@cleonconsulting.com


Akhirnya William Henry Gates III atau Bill Gates melangkahkan kakinya di Indonesia setelah beberapa kali upaya untuk menghadirkannya menemui banyak kendala. Kedatangan Bill Gates kali ini dalam rangka acara Government Leader Conference yang disertai dengan beberapa acara pendukung seperti pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presidential Lecture menjadi event yang menarik perhatian khususnya kalangan dunia usaha, pemerintah, dan praktisi TI Indonesia yang secara otomatis juga menjadi buah bibir media komersial maupun pribadi melalui situs blog dan sebagainya.

Pengalaman pribadi saya melihat Bill Gates adalah pada bulan Januari 1998 ketika saya mengikuti kegiatan Microsoft Winter Technical Briefing di Seattle Convention Center. Pada saat itu saya baru satu minggu bergabung dengan PT Microsoft Indonesia. Sebagai new kid on the block saya tentunya sangat antusias dengan kesempatan untuk melihat dan mendengarkan langsung wejangan yang disampaikan oleh Bill Gates selaku CEO Microsoft Corp. pada saat itu. Setelah lebih dari 10 tahun berselang ketika saya melihat siaran langsung Presidential Lecture pada tanggal 9 Mei 2008 melalui salah-satu televisi swasta banyak hal yang tidak berubah dari pribadi Bill Gates.

Bill Gates sebagai pribadi yang sederhana, humble, down to earth, dan cenderung kikuk masih seperti dulu walaupun pundi-pundi emasnya jauh lebih banyak dari tahun 1998. Visi, keyakinan dan konsistensi Bill Gates terhadap inovasi dan pemanfaatan TI khususnya software secara luas bagi kemaslahatan hidup orang banyak juga tidak berubah. Banyak di antara kita yang lupa tentang mimpinya Bill Gates pada 1975 yaitu “Computer at every home on every desk”. Pada saat menonton acara Presidential Lecture ini seakan mengingatkan saya untuk “menempatkan kembali teknologi untuk dimanfaatkan seluasnya bagi kepentingan umat manusia”. Contoh-contoh yang disampaikan seakan menjewer saya yang mungkin selama ini menempatkan teknologi sebagai benda ekonomi semata yang diliputi friksi dan persaingan. Yang pada gilirannya malah semakin menjauh dari peran asasi teknologi itu sendiri.

Di sisi lain satu hari sebelumnya setelah Bill Gates melakukan pertemuan resmi dengan Presiden SBY hampir semua media melansir judul pemberitaan: “Microsoft akan memberikan software gratis”. Tidak ada yang salah dengan hal itu namun bagi saya sepertinya ada kesan ingin menunjukkan kemenangan atau keberhasilan dengan “mendapat software gratis” tadi. Tak lama berselang salah seorang rekan mengirim SMS dengan pesan: “Aneh deh, bangsa ini kok gak malu sih minta-minta software gratis sama oom Bill”. Saya tertegun sambil berpikir: “Ada benarnya juga sih..”.

Penyelenggaran Government Leader Conference dan kedatangan Bill Gates menunjukkan kepercayaan dunia internasional terhadap keamanan dan potensi Indonesia. Sudah lama kita sebagai bangsa kehilangan kepercayaan ini, dan sudah sepantasnya kita semakin sering membangun trust melalui acara-acara seperti ini dan mengurangi hal-hal yang dapat merusaknya. Percayalah bahwa kita sangat memerlukan kepercayaan tersebut untuk dapat bangkit sebagai bangsa.

Agar kebutuhan atau keinginan bangsa ini bisa didengar oleh dunia internasional maka perlu disiapkan beberapa paket penawaran (offering) yang menarik yang tentunya berasaskan win-win solutions. Hal ini yang menurut saya masih kurang dipersiapkan dengan matang. Sepanjang pengetahuan saya, pada pertemuan dengan Presiden SBY, pemerintah belum menyodorkan paket-paket offering tadi yang dapat ditindaklanjuti sebagai program kerja mengarah ke tujuan tertentu. Bill Gates tidak dapat dilepaskan dari Microsoft namun janganlah kita lupa bahwa Bill Gates juga seorang visionary, trend setter, dan philanthropies – yang memiliki segudang kapabilitas dan kapasitas yang dapat kita manfaatkan.

Sebagai contoh, pada Desember 1996 Mahathir Mohammad sebagai Perdana Menteri Malaysia secara terang-terangan menjadikan Bill Gates sebagai salah seorang anggota penasihat kelompok kerja yang merancang program Multimedia Super Corridor (MSC). Bill Gates dihadirkan sebagai source of knowledge kelas dunia yang memang tidak dimiliki Malaysia saat itu. Tak lama berselang PM Mahathir memberikan penawaran kemudahan pajak serta legalisasi software pemerintah jika Microsoft bersedia mengalihkan Asia Pacific Regional Head Quarternya dari Singapore ke Kuala Lumpur, suatu penawaran yang menarik tentunya.

Kunjungan Bill Gates kali ini sebetulnya dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk menawarkan sesuatu – bukan meminta discount atau meminta software gratis – yang selanjutnya digunakan sebagai bahan rencana tindak lanjut serta negosiasi, sehingga manfaat kunjungan ini tidak berakhir saat Bill Gates meninggalkan Indonesia.

Beberapa penawaran yang mungkin dapat disampaikan pada Bill Gates antara lain National Health Program melalui Bill & Melinda Gates Foundation, riset biotechnology untuk melawan flu-burung, atau mengusulkan program beasiswa. Hal yang berkenaan dengan TIK dapat ditawarkan usulan off-shore software development untuk produk teknologi Microsoft, dimana beberapa bagian dari software Microsoft dapat dibangun oleh tenaga lokal di Indonesia. Imbal balik yang dapat ditawarkan antara lain penurunan biaya produksi, penurunan waktu uji coba (testing) karena dapat dilakukan oleh banyak orang, peningkatan kualitas produk dengan cross group testing (misalnya code yang dibuat di India diuji di Indonesia dan sebaliknya). Bagi bangsa ini tentunya akan mendorong penyerapan SDM TI berkualitas internasional. Penawaran lain misalnya dengan menjadikan Indonesia sebagai tempat manufakturing produk perangkat keras Microsoft seperti mouse, keyboard, joystick, dan sebagainya. Saat ini produk tersebut banyak diproduksi di Malaysia dan Meksiko. Indonesia seharusnya mampu bersaing dengan negara-negara tersebut karena terbukti barang-barang yang dibuat di Indonesia telah dipercaya oleh perusahaan asing (lihat saja label baju yang dijual di Factory Outlet baik di Amerika Serikat maupun di Bandung – banyak sekali yang Made in Indonesia). Bisa dibayangkan jumlah penyerapan tenaga kerja jika hal ini dapat dilaksanakan.

Hal lain yang patut dicoba adalah mengusulkan pengembangan produk Microsoft versi terbatas (strip-downed) oleh tenaga lokal di Indonesia. Produk ini dibuat khusus dengan fitur khusus yang sesuai dengan kebutuhan dan daya beli bangsa ini, khususnya bagi dunia pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik. Atau kalau boleh agak ekstrim kita bisa menawarkan diri sebagai pusat pengembangan paket aplikasi bisnis Open Source yang berjalan pada platform Microsoft (agak aneh kedengarannya) – namun tidak mustahil, karena Microsoft adalah platform company yang memerlukan software lain untuk berjalan di atasnya. Saya yakin melalui penelaahan yang memadai bersama-sama akan ditemukan paket-paket lain yang lebih menarik dan realistis untuk ditawarkan.

Pada prinsipnya Indonesia harus mampu dan mau memposisikan diri sebagai pelaku bisnis yang menjalankan kaidah-kaidah ekonomi yang berlaku. Software sebagai industri memang sekarang sudah mengalami pergeseran dengan adanya Open Source, namun terlepas dari masalah proprietary atau Open Source, kita semua tetap harus melihat hal ini sebagai peluang untuk membangun bangsa dan mensejahterakan rakyatnya. Dengan menempatkan diri sebagai entitas bisnis ini seharusnya kita dapat mengatakan, misalnya: “Mr. Gates, this is what we have in mind, this is our strength and this is how it should be done. But we also know the rule of economy, so these are the benefit for you. Would you consider our offer?” – bukannya kita mengatakan: “Mr. Gates, we are poor country, our computer illiteracy rate is still pretty high. We want you to provide free software for us”. Untuk pebisnis mana pun tawaran terakhir ini tidak akan masuk akal – malah jadi bahan tertawaan – there’s no such free lunch, my dear friend.

Kembali kepada materi Presidential Lecture yang disampaikan Bill Gates, beberapa hal yang menye-garkan kembali optimisme saya terhadap kebangkitan bangsa ini bertepatan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional sejak 1908, antara lain:
1. Bill Gates memulai usahanya dari mimpi yang direalisasikan. Kita sudah sering bermimpi dan      berwacana namun kita belum merealisasikannya;
2. Untuk memanfaatkan teknologi seluas-luasnya diperlukan 3 hal yaitu membangun infrastruktur,      mempersiapkan SDM, dan memiliki national plan. Ketiga hal ini sudah mulai dilakukan oleh      Indonesia yang menunjukkan bahwa kita on the right track;
3. Program Partner in Learning telah melatih lebih dari 170 ribu guru untuk dapat memanfaatkan TIK     dengan lebih baik untuk meningkatkan kualitas pendidikan;
4.  Akan terus dikembangkan beberapa pusat riset di Perguruan Tinggi sebagai pendorong pertumbuhan     ekonomi kelak;
5. Pemanfaatan teknologi secara maksimal dapat membantu menyelamatkan bangsa ini dari keter-     purukan lebih jauh;
6. Bangsa ini memiliki sumber daya yang luar biasa besarnya (manusia dan alam) untuk dapat tumbuh     lebih baik lagi

Saya sangat senang melihat Bill Gates hadir di Indonesia dan menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pihak yang telah mempersiapkan kedatangannya. Semoga setelah Bill Gates kita mampu menghadirkan tokoh-tokoh internasional lainnya yang dapat membawa angin segar dan semangat untuk meningkatkan kepercayaan diri kita.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Kembali Ke Daftar Isi