Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

 
 
EKO PRASOJO

Awal Sebuah Karir


Semua orang yang hadir dalam seminar “Evaluasi Penerapan e-Government di Indonesia” akhir September lalu di Jakarta, duduk tenang tak bersuara sedikit pun, dan menyimak dengan seksama, ketika Eko Prasojo menyampaikan makalahnya. Padahal saat itu hari sudah cukup siang dan membuat rasa kantuk mulai menyelimuti peserta seminar.

Dengan suara yang keras dan irama naik turunnya yang enak didengar, Eko memang membuat peserta seminar terkesima. Saat itu Eko bicara soal kaitan antara reformasi birokrasi dengan e-goverment.

“Singkatan e-Government seharusnya bukan electronic government tapi easy government,” suara Eko memecah heningnya suasana. Peserta seminar terkesima, terutama setelah Eko menjelaskan maksud kata easy. Pemerintah seharusnya membuat masyarakat mudah dalam mela-kukan segala urusan dengan mereka, jelas Eko.

Dalam setiap tampilan, Eko memang terkenal kritis dan mampu menguraikan pandangannya dengan jelas dan sistematis. Ia juga selalu terlihat enerjik. Tak banyak yang tahu, kalau Eko adalah seorang profesor termuda dalam sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI. Ia memperoleh gelar tersebut di bawah usia 40 tahun. “Menjadi profesor itu bukan akhir dari sebuah karir, tapi justru awal dari sebuah karir,” jelas pria kelahiran Kijang, Kepulauan Riau, 21 Juli 1970 ini, ketika ditanya soal gelar profesornya itu. Tampaknya Eko ingin mengubah paradigma selama ini tentang gelar guru besar tersebut, menjadi profesor bukanlah akhir dari sebuah perjalanan karir tetapi awal dari sebuah perjalanan karir. Nah, siapa lagi yang berani nyusul jadi profesor di usia muda?
(AZ)
 

 
 
 
 
 


 
HERU SUTADI:

Kalau Masih Bandel,
Terpaksa Harus Dijewer


Heru Sutadi tampaknya paham betul bagaimana cara mengasuh anak-anaknya. Harus bijaksana dan tegas. Terutama jika ada masalah yang dihadapi sang anak. “Kalau ada masalah dengan mereka, kita nasehati dulu. Kita ajak ngomong baik-baik,” kata anggota Badan Regulasi Teknologi Informasi (BRTI) ini. Kalau masih bandel? “Ya, terpaksa harus dijewer,” kata pria yang pernah bekerja di Luncent Technologies di Arab Saudi dan Jerman ini.

Tapi, meski Heru adalah seorang Bapak, nasehat tersebut bukanlah ditujukannya buat dua orang anaknya.Apalagi dua orang anaknya itu masih kecil-kecil. Lantas? Rupanya apa yang disampaikan Heru itu adalah pendapatnya tentang situasi yang dihadapi PT Telkom yang belum juga merespon BRTI untuk membuka kode akses SLJJ-nya. Menurut Heru, kalau Telkom masih membandel, maka perusahaan tersebut harus dijewer. “Sebab kalau didiamkan, akan lebih bandel lagi,” jelas Heru yang saat ini tengah mengambil S3 elektro di Universitas Indonesia ini.
(AZ)
 
 
 
 


NABA AJI NOTOSEPUTRO


Perkenalkan TI Sejak Dini Pada Anak


Sebagai seorang pemimpin di sebuah lembaga pendidikan TI, tidaklah heran jika Naba Aji Notoseputro sudah menge-nalkan TI kepada anak-anaknya. “Kebetulan saya pasang speedy dan hot spot di rumah. Jadi, setiap pergi ke ruangan mana pun sudah tercover dengan internet,” tutur Naba. Menurut alumnus IPB ini, anak-anak harus dikenalkan Ti dari awal. Bahkan, mereka sudah dikasih email satu-satu. “Jadi kalau saya kunjungan ke daerah, anak-anak bisa tetap berkomunikasi dengan saya baik via email, telepon, atau bahkan kami pakai YM,” imbuhnya. Anaknya yang sudah terbiasa menggunakan email adalah yang paling besar, sekarang duduk di kelas 5 SD.

Naba mengatakan di zaman yang se-makin global ini, kita tidak boleh kalah de-ngan anak-anak negara maju yang sejak kecil sudah diajari komputer. Namun, soal internet, pria asal Purworejo ini memberi batasan pada situs-situs yang aman bagi anak-anak. “Saya block situs tertentu, agar hal-hal yang kurang mendidik bisa dihindari,” paparnya.

Naba juga mengaku telah memperkenalkan Google Earth pada anak-anaknya. Ketika mau liburan ke Bali kemarin, misalnya, ia meminta kepada anak-anak untuk mencari letak pulau Bali, mau ke mana saja saat di Bali, bahkan ikut mencari letak hotel yang akan dituju saat di Bali. Jadi, anak-anak sudah bisa menggunakan Google Earth. “Sederhana, tapi experience, dari situ mereka menjadi excited dengan tek-nologi informasi,” ungkap bos Bina Sarana Informatika (BSI) ini semangat.
(Ari Astuti)

 
 


KEMBALI