| |
| |
TAUFIK
ISMAIL
Balada
Teknologi
Bagaimana Taufik Ismail
memandang perkembangan Teknologi Infor-masi (TI) yang begitu pesat?
Sebagai penyair senior, ia menggam-barkan secara apik lewat puisi
bertajuk “Balada Teknologi” dan “Telekomunikasi
Abad ini”. Kedua puisi tersebut mendiskripsikan bagaimana
lompatan peradaban karena teknologi. Dan dalam kesem-patan yang
tepat, saat perayaan HUT Badan Regulasi Teknologi Informasi (BRTI)
awal Januari lalu, pria kelahiran Bukit Tinggi ini membacakan kedua
puisi tersebut. “Baru pertama kali ini, saya membaca puisi
di hadapan para pelaku telekomunikasi,” ucapnya. Mengingat
puisi yang dibacakan sesuai tepat sasaran, hal ini sempat ‘membuai’
Dirjen Postel Depkominfo, Basuki Yusuf Iskandar dan para tamu undangan
lainnya.
Diakui Taufik, tak banyak hasil karya puisinya yang bertema teknologi.
“Kalau tidak salah baru ada dua atau tiga.” Yang pasti
dua puisi bertema teknologi tersebut sudah dibukukan dengan tajuk:
“40 Tahun Merangkul Cakrawala”. Ketika ditanya, kapan
akan melahirkan puisi bertema TI lagi, ia berucap, “Belum
tahu. Mengalir saja nanti.”
Terkaiti dengan TI, di mata pria berumur 71 tahun ini, perkembangan
bidang itu begitu dahsyatnya. Ia pun turut merasakan imbas kemajuan
TI. Salah-satunya lewat kehadiran ponsel. “Alat tersebut membuat
saya bisa berkomunikasi tanpa batas dengan siapa saja, di mana saja
dan dilakukan dengan cepat,” ungkapnya. Padahal dulu, kata
Taufik, orang tidak bisa berkomunikasi sebebas itu. Meski mengakui
kehadiran ponsel cukup merepotkan, toh Taufik tak membatasi diri.
Artinya siapa pun yang menghubungi ponselnya, ia akan menerimanya.
“Kecuali kalau sudah waktunya tidur. Ponsel saya matikan.”
Dalam keseharian, penyuka topi pet ini, menggunakan dua ponsel.
Satu digunakan untuk berkomunikasi, satu lagi untuk menyimpan hasil
karya puisinya. Ia juga memilik laptop. Melalui laptop tesebut,
Taufik berselancar di dunia maya. Rupanya, lompatan perabadan juga
dialami penyair angkatan 66 ini.
(FR) |
|

|
|
| |
| |
| |
| |
ZULFIKAR
MOCHAMAD RACHMAN
Rajin
Bergerilya
Rampungnya proyek
Partnerships for e-Prosperity for the Poor hasil kerja sama Bappenas
dan UNDP (United Nations Development Programme), tidak membuat Zulfikar
Mochamad Rachman berpuas diri. Justru, sebaliknya. Meski sudah membangun
8 lokasi pilot project dalam bentuk telecenter, ia menginginkan
lebih dari itu. Lho kok? “Saya ingin telecenter menjadi gerakan
nasional, bukan lagi kegiatan proyek percontohan,” ucapnya.
Azul –begitu panggilannya— berpendapat bila telecen-
ter dijadikan gerakan nasional pasti akan mem-percepat upaya pemberdayaan
masyarakat di Indonesia. Maklumlah jumlah telecenter masih terbilang
terbatas dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.
Caranya? Ia mengusung program bertajuk Indonesia Telecenter 2.0.
Di sini, telecenter yang sudah ada – yang digagas oleh siapapun
dengan nama berbeda— bergabung dalam jejaring telecenter (Indonesia
Telecenter Network). Connection ini tidak saja menghubungkan pengelolanya,
tapi warga di sekitarnya, relawan, penyedia layanan dan program,
serta stakeholder lainnya. “Jejaring ini juga mempunyai jejaring
pendukung (Telecenter Support Network) yang memfasilitasi upaya
nasional dari berbagai stakeholder untuk menyediakan konten, layanan,
program, teknologi, pelatihan, konsultasi, kemitraan, dan pendanaan
bagi kegiatan-kegiatan telecenter,” terang peraih Master of
Management Studies (with Distinction, 1999) dan Post Graduate Diploma
in Management Systems (1997) dengan fokus TIK di University of Waikato,
Hamilton, New Zealand ini. Ditambahkan Azul, jaringan pendukung
ini secara khusus juga memiliki jaringan peningkatan kapasitas pekerja
telecenter (Telecenter Network Academy) dalam bentuk pelatihan,
lokakarya, konferensi, ‘telecenter leadership forum’,
sertifikasi dan lain-lain.
Mengingat ini gawe nasional, belakangan ini ayah dua putri ini sibuk
bergerilya. Ia mengajak berbagai pihak agar bisa bekerja sama merealisasikan
gawe tersebut. Nah begitu ada kesempatan untuk mempresentasikan
idenya, ia pun langsung tancap gas. “Saya siap presentasi
dan kerja sama dengan siapa saja,” tegasnya. Iya, demi sebuah
tekad ya?
(FR)
|
|
| |
|
|
SURYO SUWIGNJO
Sejak
Awal Mengincar IBM
Siapa Suryo Suwignjo
yang sejak Januari ini menggantikan posisi Betti Alisjahbana sebagai
orang nomor satu di PT IBM Indonesia? Ternyata ia orang lama di
IBM. Pria kelahiran Semarang 30 November 1966 ini adalah general
manager termuda di antara 12 GM lainnya di IBM Indonesia ketika
ia menjabat sebagai GM Personal Untuk sampai ke tahap level pimpinan
tertinggi tentu tidak mudah bagi Suryo. “Di sini tidak ada
senioritas,” katanya. Malah ketika ia pertama kali masuk ke
IBM, “Otak saya langsung dicuci,” cerita suami dari
Maria teman sekampung yang dinikahinya.
"Saya merasa terhormat dapat mengambil-alih tampuk kepemimpinan
IBM Indonesia dari salah-satu tokoh yang paling dihormati di industri
ini. Selama tujuh tahun, Betti telah membawa IBM Indonesia menjadi
perusahaan yang berkekuatan dahsyat," kata Suryo ketika acara
penyerah terimaan jabatan.
Tidak bosan nongkrong di IBM? “Tidak ada alasan untuk tidak
betah. Lingungan kerja di sini sungguh egaliter, tak ada pembedaan,
tak ada bossy,” ungkap Suryo. Diam-diam Suryo ternyata sudah
lama memang mengincar untuk dapat bekerja di IBM. “Sejak dulu
saya memang berniat masuk perusahaan multi nasional seperti IBM,”
kenangnya. Kini, Suryo –yang gemar bermain golf ini–
bukan hanya bekerja di IBM, tetapi siap memimpin untuk membawa perusahaan
tersebut ke kancah yang lebih sukses. Selamat Suryo.
(FR)
|
|
| |
|