Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara


Silahkan mengisi bukutamu

Hubungi Kami


detiknas
sumatera digital
kabupaten sragen





Ingin berwisata ke Bogor,
Puncak, Cianjur dan
Sukabumi? tapi bingung me-
nentukan tempat mengi-
nap dan apa fasilitasnya?
Enggak usah bingung kini
telah hadir untuk Anda
Majalah Puncakview & Tabloid
Info Puncak sebagai media
pendamping Anda ber-
wisata bersama keluarga.
Untuk info miting, juga ada!
Klik disini lengkapnya.


CIO: Siapa dan di Mana Posisinya

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Meski perannya dirasa sangat penting, nyatanya belum ada persepsi yang sama mengenai Chief Information Officer (CIO) serta bagaimana menempatkannya dalam struktur pemerintahan maupun bisnis. Padahal, kehadirannya bisa membuat TI menjadi alat yang kompetitif untuk memenangkan persaingan sekaligus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Husnul Suhaimi
Business Adviser TM International

Siang itu sedang berlangsung RUPS PT Telkom. Jajaran pemegang saham dan undangan hadir. Berbagai topik penting dibahas. Di tengah jalannya rapat, Arwin Rasyid urun rembug satu saran. Direktur Utama PT Telkom itu mengusulkan agar Telkom mempunyai direktur TI tersendiri. Sontak, ber-bagai komentar dilontarkan oleh yang hadir. Hasilnya? Rapat siang itu tidak merespon usulan mantan pria yang lama malang melintang di dunia per-bankan tersebut. Pemegang saham memutuskan Telkom tidak perlu memi-liki direktur TI yang berperan layaknya seorang Chief Information Officer (CIO).

Keputusan RUPS PT Telkom tersebut, setidaknya memberikan secuil gambaran bagaimana provider telekomunikasi terbesar di tanah air itu menerapkan manajemen. Yang berlaku adalah process enterprise bukan vertical enterprise. Di sini, TI dianggap sudah membaur di berbagai bidang fung-sional. Praktis TI tidak lagi dilihat sebagai kegiatan terpisah dengan unit kerja lainnya. Artinya, TI sudah lintas bidang fungsional.

Lain ladang lain belalang. PT Indosat Tbk. malah menunjukkan fakta berbeda. Justru karena diang-gap penting, perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki Singtel ini, dalam struktur organisasinya memiliki direktur TI tersendiri. Pertimbangannya, ya itu tadi, harus ada seseorang yang mengga-wangi bidang TI dan siap men-support bisnis Indosat.

Berbicara soal CIO, belum ada kata sepakat yang sama. Beragam pertanyaan sontak menyeruap. Bagaimana memaknai CIO? Seberapa jauh kehadirannya diperlukan di sebuah perusahaan atau pemerintahan? Apa peran dan fungsinya? Dan masih banyak lagi deretan pertanyaan terkait CIO.

Menempatkan CIO
Tidak dipungkiri, setiap perusahaan memiliki struktur organisasi yang berbeda yang dikembangkan berdasarkan proses bisnis yang ada. Lazimnya, pimpinan paling tinggi di perusahaan dijabat oleh Presiden Direktur, Direktur Utama, atau Chief Executive Officer (CEO). Di pundak merekalah, terpikul tanggung jawab kinerja perusahaan termasuk dalam hal implementasi teknologi informasi.

Djoko Agung Harijadi
Direktur e-government Depkominfo

Guna membantu tugas CEO, biasanya ditunjuk seseorang dengan jabatan khusus yang bertanggung jawab terhadap proses perencanaan dan pengem-bangan sistem dan teknologi informasi di perusahaan. Tugas utamanya, menjamin lancarnya implementasi TI sehingga dapat memberikan kontri-busi signifikan bagi operasional dan perkembangan bisnis sehari-hari.

Nah dari sini, tinggi rendahnya posisi penanggung jawab ini sangat ditentukan oleh posisi dan peranan TI bagi perusahaan. Yang berlaku, semakin kritikal fungsi TI, biasanya semakin tinggi pula jabatan penanggung jawabnya di dalam organisasi. Untuk jabatan tertinggi ada pada level direktur atau anggota direksi atau disebut dengan CIO.

Dijadikannya TI sebagai ukuran untuk melihat pentingnya CIO diakui oleh Hasnul Suhaimi, mantan presiden direktur Indosat yang kini business adviser TM International. Ia menuturkan, peran TI akan lebih terasa jika perusahaannya bersifat market oriented, atau departemen yang lebih memen-tingkan klien atau industri daripada manajemen itu sendiri. Di sini, TI menjadi garda terdepan. Untuk itulah, kata Hasnul, CIO diperlukan. “Ia harus memahami bagaimana marketing dan apa yang dimaui pelanggan. CIO dengan TI-nya, harus mampu men-support hal tersebut,” tandasnya.

Sebagai gambaran, pria kelahiran Padang ini mencontohkan Indosat, perusahaan yang pernah dinahkodainya. ”Mulanya, tanggung jawab Indosat hanya membuat billing dan memastikan kom-puter berjalan dengan baik, bisa interaksi via email. Jadi, awalnya tidak terlalu mendesak untuk mempunyai CIO,” ungkap Hasnul. Masih kata Hasnul, struktur organisasi ketika itu cukup ramping dan sistematis. Cukup melalui dirut, diteruskan direksi dan dilanjutkan ke jajaran di bawahnya. Pendeknya, tongkat komando berjalan dengan simpel.

Tapi seiring dengan waktu, lanjut Hasnul, kondisi organisasi yang seperti itu tidak layak lagi. Kini, yang jadi fokus adalah pelanggan. “Kalau awalnya direksi adalah dewan di perusahaan, kini direksi hanya supporting yang juga melayani pelanggan. Konsep inilah yang mengubah cara berpikir kami terhadap TI.”

Bicara soal CIO, memang bergantung pada kebutuhan perusahaan. Benny Ranti, salah seorang dosen di Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia, mencoba menyodorkan semacam ukuran guna menjawab pertanyaan: “Kapan sih jabatan CIO diperlukan?” Menurut Benny yang juga wakil ketua komite tetap informatika Kadin ini, ada sebuah rumusan yang sangat sederhana. Bisa dimulai dari pertanyaan seperti ini: “Apabila sistem TI di perusahaan atau pemerintahan down, berapa kerugian yang ditanggung akibat kondisi tersebut?“ “Hal seperti ini hampir tidak ada yang mengukur. Padahal penting sekali,” tukas Benny. Berbekal jawaban tadi, bisa ditafsirkan critical tidaknya peranan TI. “Kalau satu minggu down tidak terjadi kerugian apa-apa berarti TI tidak signifikan manfaatnya.” Nah bila itu yang terjadi, ia berpendapat, sebuah perusahaan tidak perlu memaksakan adanya seorang CIO. “Daripada ada (CIO) tapi tidak jelas pekerjaannya.” Sebaliknya, jika dampat dari down sistem TI berimbas pada kerugian cukup besar, maka kehadiran CIO menjadi sangat penting.

Benny menggarisbawahi bahwa manfaat TI bisa menjadi starting point untuk menentukan perlu tidaknya jabatan CIO baik di pemerintahan maupun bisnis. “Manfaat yang saya maksud bisa dilihat dari kepentingan user. Di pemerintahan, misalnya, bisa dilihat dari kualitas layanan publik yang diterima masyarakat. Sementara di lingkup swasta, loyalitas pelanggan bisa menjadi indikator.” Jadi, masih kata Benny, “Baik di pemerintahan maupun corporate, sama-sama bisa diukur manfaat TI-nya.”

Namun konteksnya menjadi lain, bila perusahaan atau pemerintahan menganggap CIO tidak diperlukan mengingat TI sudah membaur dengan semua bidang fungsional baik di dalam peme-rintahan maupun perusahaan. Alhasil, setiap manajer juga merupakan manajer TI. Kalau sudah begitu, maka tidak perlu ada satu bidang khusus yang mengurusi TI.

KEMBALI  l  KE ATAS



-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------


HOME
  l  EDISI  l  ARTIKEL  l  E-DAERAH  l  EVENT  l  IKLAN



::: Copyright © www.majalaheindonesia.com :::