|
|
CIO: Siapa dan di Mana Posisinya
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ |
Meski perannya
dirasa sangat penting, nyatanya belum ada persepsi yang sama mengenai
Chief Information Officer (CIO) serta bagaimana menempatkannya
dalam struktur pemerintahan maupun bisnis. Padahal, kehadirannya
bisa membuat TI menjadi alat yang kompetitif untuk memenangkan
persaingan sekaligus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Husnul Suhaimi
Business Adviser TM International
Siang itu sedang berlangsung RUPS PT Telkom. Jajaran pemegang
saham dan undangan hadir. Berbagai topik penting dibahas. Di tengah
jalannya rapat, Arwin Rasyid urun rembug satu saran. Direktur
Utama PT Telkom itu mengusulkan agar Telkom mempunyai direktur
TI tersendiri. Sontak, ber-bagai komentar dilontarkan oleh yang
hadir. Hasilnya? Rapat siang itu tidak merespon usulan mantan
pria yang lama malang melintang di dunia per-bankan tersebut.
Pemegang saham memutuskan Telkom tidak perlu memi-liki direktur
TI yang berperan layaknya seorang Chief Information Officer (CIO).
Keputusan RUPS PT Telkom tersebut, setidaknya memberikan secuil
gambaran bagaimana provider telekomunikasi terbesar di tanah air
itu menerapkan manajemen. Yang berlaku adalah process enterprise
bukan vertical enterprise. Di sini, TI dianggap sudah membaur
di berbagai bidang fung-sional. Praktis TI tidak lagi dilihat
sebagai kegiatan terpisah dengan unit kerja lainnya. Artinya,
TI sudah lintas bidang fungsional.
Lain ladang lain belalang. PT Indosat Tbk. malah menunjukkan fakta
berbeda. Justru karena diang-gap penting, perusahaan yang sebagian
sahamnya dimiliki Singtel ini, dalam struktur organisasinya memiliki
direktur TI tersendiri. Pertimbangannya, ya itu tadi, harus ada
seseorang yang mengga-wangi bidang TI dan siap men-support
bisnis Indosat.
Berbicara soal CIO, belum ada kata sepakat yang sama. Beragam
pertanyaan sontak menyeruap. Bagaimana memaknai CIO? Seberapa
jauh kehadirannya diperlukan di sebuah perusahaan atau pemerintahan?
Apa peran dan fungsinya? Dan masih banyak lagi deretan pertanyaan
terkait CIO.
Menempatkan CIO
Tidak dipungkiri, setiap perusahaan memiliki struktur organisasi
yang berbeda yang dikembangkan berdasarkan proses bisnis yang
ada. Lazimnya, pimpinan paling tinggi di perusahaan dijabat oleh
Presiden Direktur, Direktur Utama, atau Chief Executive Officer
(CEO). Di pundak merekalah, terpikul tanggung jawab kinerja perusahaan
termasuk dalam hal implementasi teknologi informasi.
Djoko
Agung Harijadi
Direktur e-government Depkominfo
Guna membantu tugas CEO, biasanya ditunjuk seseorang dengan jabatan
khusus yang bertanggung jawab terhadap proses perencanaan dan
pengem-bangan sistem dan teknologi informasi di perusahaan. Tugas
utamanya, menjamin lancarnya implementasi TI sehingga dapat memberikan
kontri-busi signifikan bagi operasional dan perkembangan bisnis
sehari-hari.
Nah dari sini, tinggi rendahnya posisi penanggung jawab ini sangat
ditentukan oleh posisi dan peranan TI bagi perusahaan. Yang berlaku,
semakin kritikal fungsi TI, biasanya semakin tinggi pula jabatan
penanggung jawabnya di dalam organisasi. Untuk jabatan tertinggi
ada pada level direktur atau anggota direksi atau disebut dengan
CIO.
Dijadikannya TI sebagai ukuran untuk melihat pentingnya CIO diakui
oleh Hasnul Suhaimi, mantan presiden direktur Indosat yang kini
business adviser TM International. Ia menuturkan, peran TI akan
lebih terasa jika perusahaannya bersifat market oriented, atau
departemen yang lebih memen-tingkan klien atau industri daripada
manajemen itu sendiri. Di sini, TI menjadi garda terdepan. Untuk
itulah, kata Hasnul, CIO diperlukan. “Ia harus memahami
bagaimana marketing dan apa yang dimaui pelanggan. CIO dengan
TI-nya, harus mampu men-support hal tersebut,”
tandasnya.
Sebagai gambaran, pria kelahiran Padang ini mencontohkan Indosat,
perusahaan yang pernah dinahkodainya. ”Mulanya, tanggung
jawab Indosat hanya membuat billing dan memastikan kom-puter berjalan
dengan baik, bisa interaksi via email. Jadi, awalnya tidak terlalu
mendesak untuk mempunyai CIO,” ungkap Hasnul. Masih kata
Hasnul, struktur organisasi ketika itu cukup ramping dan sistematis.
Cukup melalui dirut, diteruskan direksi dan dilanjutkan ke jajaran
di bawahnya. Pendeknya, tongkat komando berjalan dengan simpel.
Tapi seiring dengan waktu, lanjut Hasnul, kondisi organisasi yang
seperti itu tidak layak lagi. Kini, yang jadi fokus adalah pelanggan.
“Kalau awalnya direksi adalah dewan di perusahaan, kini
direksi hanya supporting yang juga melayani pelanggan. Konsep
inilah yang mengubah cara berpikir kami terhadap TI.”
Bicara soal CIO, memang bergantung pada kebutuhan perusahaan.
Benny Ranti, salah seorang dosen di Magister Teknologi Informasi
Universitas Indonesia, mencoba menyodorkan semacam ukuran guna
menjawab pertanyaan: “Kapan sih jabatan CIO diperlukan?”
Menurut Benny yang juga wakil ketua komite tetap informatika Kadin
ini, ada sebuah rumusan yang sangat sederhana. Bisa dimulai dari
pertanyaan seperti ini: “Apabila sistem TI di perusahaan
atau pemerintahan down, berapa kerugian yang ditanggung akibat
kondisi tersebut?“ “Hal seperti ini hampir tidak ada
yang mengukur. Padahal penting sekali,” tukas Benny. Berbekal
jawaban tadi, bisa ditafsirkan critical tidaknya peranan TI. “Kalau
satu minggu down tidak terjadi kerugian apa-apa berarti TI tidak
signifikan manfaatnya.” Nah bila itu yang terjadi, ia berpendapat,
sebuah perusahaan tidak perlu memaksakan adanya seorang CIO. “Daripada
ada (CIO) tapi tidak jelas pekerjaannya.” Sebaliknya, jika
dampat dari down sistem TI berimbas pada kerugian cukup besar,
maka kehadiran CIO menjadi sangat penting.
Benny menggarisbawahi bahwa manfaat TI bisa menjadi starting point
untuk menentukan perlu tidaknya jabatan CIO baik di pemerintahan
maupun bisnis. “Manfaat yang saya maksud bisa dilihat dari
kepentingan user. Di pemerintahan, misalnya, bisa dilihat dari
kualitas layanan publik yang diterima masyarakat. Sementara di
lingkup swasta, loyalitas pelanggan bisa menjadi indikator.”
Jadi, masih kata Benny, “Baik di pemerintahan maupun corporate,
sama-sama bisa diukur manfaat TI-nya.”
Namun konteksnya menjadi lain, bila perusahaan atau pemerintahan
menganggap CIO tidak diperlukan mengingat TI sudah membaur dengan
semua bidang fungsional baik di dalam peme-rintahan maupun perusahaan.
Alhasil, setiap manajer juga merupakan manajer TI. Kalau sudah
begitu, maka tidak perlu ada satu bidang khusus yang mengurusi
TI. 
KEMBALI
l KE
ATAS
|
|
|
|