| |
Suatu siang, kami berkesempatan duduk
bareng dengan Menteri Komunikasi dan Informatika, Sofyan Djalil
di ruang kerjanya. Beberapa topik hangat seputar pembangunan Information
Communications Technology (ICT) sempat kami perbincangkan.
Dari obrolan tersebut, ada satu pernyataan beliau yang membuat hati
kami tergugah.
Secara apa adanya beliau mengungkapkan lemahnya koordinasi antar
instansi. Padahal, menurut Sofyan, berbekal koordinasi banyak manfaat
yang bisa ditoreh. Efisiensi salah-satunya. Selama ini, masing-masing
instansi melaju dengan rel ‘programnya’ sendiri. Padahal,
adakalanya target dan tujuan yang hendak diwujudkan sama. “Kalau
semua bikin proyek, duit habis, tujuan tidak tercapai,” begitu
Sofyan berkesimpulan.
Keluhan lemahnya koordinasi bukanlah fakta baru. Dalam berbagai
kesempatan, hal yang sama juga dilontarkan oleh mereka yang diberi
amanah memegang jabatan sebagai pemimpin. Entah itu, menteri, kepala
badan, deputi, hingga kepala seksi di dinas pemda tingkat II. Perjalanan
kami meliput perkembangan e-government di berbagai lembaga pemerintah
di pusat maupun daerah, semakin menguatkan fakta itu.
Sebagai masyarakat biasa, kami tak bisa berbuat banyak. Namun bukan
berarti kami lantas berpangku tangan sembari menuding, mencari kambing
hitam siapa yang patut dipersalahkan. Kami mencoba berbuat. Dari
sini, muncul sebersit gagasan melahirkan sebuah media sebagai sebuah
wadah. Iya, wadah untuk menjembatani berbagai pihak yang selama
ini ada jarak. Jarak itu bernama komunikasi, tempat, waktu, jabatan,
hingga kepentingan. Siapa tahu, cerai-berai koordinasi itu bisa
dipersatukan.
Sepintas, gagasan tersebut terlalu idealis. Maklum, tujuan semacam
itu acapkali dilakukan meski dengan sarana yang berbeda. Toh hasil-hasilnya,
klasik. Nyaris tidak ada perubahan. Hanya saja, pesimis itu langsung
sirna manakala di benak kami menari-menari sebuah mimpi: bersatunya
Indonesia dalam sebuah sistem. Kecanggihan ICT digunakan sebagai
tools untuk merajut nusantara dalam sebuah sistem yang serba elektronis.
Ini mimpi sekaligus tujuan. Boleh jadi, ini bak mimpi di siang bolong.
Tapi bila melongok tetangga kita, Singapura, hal tersebut bukanlah
mimpi tapi realita. Di negeri Singa itu, lebih dari 96% layanannya
dikemas secara online. Bila sekarang Anda menerima dan
membaca majalah ini, itu adalah langkah awal menuju realita. Harapannya,
kita bersama bisa menjadikan media ini sebagai sarana mewujudkan
e-Indonesia. Selamat membaca! 
|
|