| Artikel
Detiknas Edisi No.17 / 1 |
Asa Itu Ada
di DTIKN
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebuah terobosan, selalu dibarengi harapan. Di tengah perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi belum sepenuhnya bergeliat,
justru masih jauh tertinggal, pembentukkan Dewan Teknologi
Informasi dan Komunikasi Nasional (DTIKN) memunculkan harapan.
Negeri ini bisa melaju jika didukung oleh kecanggihan TIK.
Simak harapan mereka yang berkiprah di blantika telematika.
Donny
Budhi Utoyo
Koordinator ICT Watch
Banyak teman yang bertanya kenapa dibentuk DTIKN. Pertanyaan
ini bisa dimaklumi mengingat dulu kita mempunyai Tim Koordinasi
Telematika Indonesia (TKTI), baik di zaman Presiden Gus
Dur maupun Megawati yang juga dibentuk berdasarkan Inpres
khusus. Karena itu, ada teman yang meledek bahwa kita perlu
membentuk koordinasi yang pada akhirnya melakukan koordinasi
timtim yang lain.
Bila dilihat mereka yang duduk di DTIKN, boleh dibilang
anggotanya bukan IT minded. Kita lihat anggotanya bukan
tecnoframe, bukan programmer, dan bukan pula orang-orang
TI di Bappenas. Sebaliknya anggota DTIKN adalah pebisnis
atau manajer. Namun justru itu merupakan kekuatan. Sebab
kalau anggota DTIKN IT minded justru tidak akan jalan. Mengapa?
Kadang orang TI tidak bisa mengambil kebijakan. Kalau background-nya
bisnis atau manajemen, dibarengi dengan ketersediaan infrastruktur,
maka merupakan langkah awal yang bagus. Selanjutnya, tinggal
bagaimana memanfaatkan infrastruktur seoptimal dan seefisiennya.
Jadi, saya berharap DTIKN bisa mengoptimalkan TIK untuk
kebutuhan beragam. Karenanya DTIKN harus kita kasih kesempatan
untuk merealisasikan tugas mereka. (Ardi)
Tony
Chen
Presiden Direktur Microsoft Indonesia
Kami melihat bahwa pemerintah saat ini lebih memperhatikan
TI. Mereka sudah menyadari bahwa TI menjadi tulang punggung
perkembangan ekonomi kita. Seperti dicanangkannya DTIKN.
Ini merupakan hal yang sangat baik untuk industri kita.
Setelah fondasinya ada, yakni DTIKN, kini tinggal dikembangkan
saja prioritas program yang akan diterapkan. Misalnya, peran
TI di pendidikan, di pemerintahan, bidang ekonomi, dan sebagainya.
Untuk itu, diperlukan konsistensi dalam hal eksekusinya.
(Chandra)
Irfan
Setiaputra
Managing Director Cisco Systems Indonesia
Saya menyambut baik pembentukan DTIKN terlepas dari banyaknya
skeptis. Menurut saya, lebih baik mempunyai komitmen daripada
tidak ada sama sekali. Tapi komitmen saja tidak cukup. Sekarang
tinggal bicara soal cara, bisa lewat mana saja. Apa pun
caranya, saya orangnya tidak terlalu mendebatkan hal itu.
Tetapi persoalannya apakah cara itu bisa benar-benar mengim-plementasikan
TIK di lapangan. Cara apa pun sebenarnya bisa, tinggal dinamika
organisasi.
Jadi kalau pemerintah kali ini lebih serius maka mereka
harus mempersiapkan banyak hal seperti pendanaan dan ketepatan
pengambilan keputusan. Selain itu, yang perlu diperhatikan
adalah penempatan orang yang tepat. Dewannya bisa benar,
programnya bisa benar, orangnya salah ya salah. Maka ketigaketiganya
harus cocok.
Yang cukup menarik keterlibatan orangorang perekonomian.
Dalam DTIKN, Pak Budiono jadi wakil ketua, Sri Mulyani jadi
anggota. Yang saya sayangkan, kenapa di Dewan kok tidak
ada anak mudanya. Meski demikian, saya tetap optimis dengan
Dewan karena orangnya beberapa saya kenal. Programnya juga
sangat menarik. Saya berharap Dewan tidak hanya berhenti
pada masalah policy. Saya menunggu dari sisi keinginan Dewan
untuk membentuk flagship. Ini sebuah ujicoba. Mampukah Dewan
melakukan aktivitasnya. (Ardi)
Budi
Wahyu Jati
Country Manager Intel Indonesia Corporation
Positif dan optimistis. Ini pendapat saya kalau ditanya
mengenai DTIKN. Menurut saya biarkan Dewan memberikan dan
membuktikan effort-nya terlebih dahulu, jangan langsung
dikecilkan. Karena Dewan langsung di bawah Presiden, sehingga
masukan dari Dewan akan langsung didengar oleh Presiden.
Dengan cara kerja seperti ini, diharapkan tidak terdistorsi
oleh kepentingan yang akan menghambat pembangunan TI.
Soal agenda, saya rasa Dewan sudah mempunyai agenda yang
baik mengingat didukung juga oleh pakar dari perguruan tinggi
dan mitra dari dunia bisnis TI. Jika pun agendanya kurang
sesuai, tentunya kami mempunyai kewajiban untuk memberikan
masukan kepada Dewan. Yang penting sekarang, membuktikan
kinerja secara real dan melaksanakan agenda Dewan. Dewan
harus berani mendobrak tradisi birokrasi yang berbelit.
Kepada menteri yang terlibat, harus bersatu dan mendukung
tugas Dewan. (Ari)
Hidayat
Tjokrodjojo
Wakil Ketua Komite Tetap Informatika Kadin Indonesia
Ada beberapa hal yang dapat kita harapkan dari DTIKN. Pertama,
Presiden dan para menteri beserta anggota Dewan, dapat memenuhi
kebutuhan e-government bagi NKRI meliputi: menyusun kebutuhan
TIK (e-government) dengan baik dan benar, melaksanakan pengadaan
dengan baik dan benar, dan melaksanakan implementasinya
dengan baik dan benar pula.
Kedua, Presiden dan para menteri beserta anggota Dewan dapat
menjadi fasilitator dengan menghilangkan semua “peraturan
dan perundang-undangan” yang “kontra produktif”
terhadap perkembangan bisnis TIK di Indonesia. Khususnya
memberi peluang lebih kepada sistem yang paling menguntungkan
NKRI, bukan individu atau kelompok tertentu saja.
Ketiga, kelompok mitra mau tidak mau mempunyai cara berpikir
“bisnis” sehingga perlu mengemukakan usulan
secara terbuka. Masukan dari mitra tentu ada “bias”
terhadap kepentingan perusahaan atau asosiasi yang diwakilinya,
namun dengan cara terbuka dapat dipilih mana saja yang lebih
membawa kebaikan bersama, bukan kebaikan produk atau kelompok
tertentu saja. Keempat, kelompok expert sebaiknya tidak
hanya dari unsur perguruan tinggi, tetapi juga dari para
pengamat atau expert dari bidang-bidang non TIK. Karena
kemajuan TIK mencakup seluruh aspek yakni Poleksosbud, Hankam,
dan secara nasional maupun international. Terakhir, DTIKN
harus terdengar “kiprah”-nya setiap hari diberbagai
media masa. Jadi semua orang tahu memang sudah “lari”
dan larinya tetap konstan. Tidak sebentar-sebentar istirahat.
Ingat lho, kerjaan banyak dan yang harus dikejar tidak berdiam
diri saja. (AZ)
Richard
Kartawijaya
CEO PT Informatika Solusi Bisnis (ISB)
Tujuan pembangunan TIK di pemerintahan sangat penting
dan saat ini masih “terlalu amat sangat lambat”
dibandingkan negara tetangga dan kompetitor Indonesia.
Untuk itu, diperlukan tangan Presiden untuk bisa mendorong
agar percepatan lebih baik sekaligus perhatian lebih fokus.
Tanpa TIK, Indonesia akan terus semakin tertinggal. Tanpa
TIK yang diimplementasikan secara baik, maka korupsi semakin
merajalela. Tanpa TIK yang digunakan secara baik, maka pemerintah
dan BUMN akan terus membeli barang/perangkat lunak/jasa
konsultan yang murah dengan mutu yang sangat jelek. Tanpa
TIK yang dapat digunakan secara tepat, maka Indonesia akan
semakin tidak efisien dan efektif. Singkat kata, dibentuknya
DTIKN diharapkan akan membantu Depkominfo untuk memperbaiki
kebijakan di sektor TIK di Indonesia. (AZ)
Eddy
Satriya
Deputy for Infrastructure and Regional Development pada
Kantor Menteri Koordinator Perekonomian
Di tengah kebuntuan, saya melihat pembentukan DTIKN merupakan
terobosan positif. Saya bilang terobosan karena hampir sepanjang
dua sampai tiga tahun terakhir, TKTI tidak jalan atau stagnan.
Untuk itu, kita harus mensuport stakeholder yang mendukung
Dewan. Dewan sendiri merupakan kombinasi antara profesional
TIK dengan orangorang pemerintah dan ini harus kita dukung
juga. Independensi Dewan, saya yakin bisa dijaga walaupun
pemerintah menjadi anggotanya mengingat nantinya ada kelompok
kerja (Pokja). Selanjutnya Pokja akan mengakomodir orang-orang
yang memang berpotensi dan mengerti TIK. Di samping itu
di dalam Dewan sendiri sudah ada empat sampai lima orang
yang profesional di bidangnya. Mulai dari ketua Mastel hingga
mantan dirut BUMN. Kalau mereka bisa menjaga idealisnya
di bidang TIK maka independensi itu bisa terjaga. Saya yakin
dengan kemampuan mereka.
Apapun namanya, kita harus optimistis. Kita rajut kembali,
kita bahu membahu dengan semua stakeholder karena tidak
mungkin masyarakat akan gontokgontokan terus atau tidak
bersatu. Sejalan dengan itu, Dewan harus mampu mengartikan
perbedaan yang ada untuk bisa maju dalam satu gerak yang
sinkron. Soalnya saya melihat sendiri kebutuhan itu ada.
Kebutuhan untuk bersamasama maju itu ada, potensi itu ada.
Adapun fokus utama mereka, bagaimana caranya agar tarif
internet bisa murah dan unlimited sehingga masyarakat cerdas.
Kemudian teknologi dan inovasi baru tidak diharamkan sehingga
masyarakat bisa berinovasi dan kreatif. Jika belum ada hukumnya
yang jelas, biarlah mereka melakukan inovasi agar berkembang
dulu. Kelak, juga akan ada yang mengontrol. Ketika moral
masyarakat memiliki etika yang baik jadi tidak perlu khawatir.
(Ardi)
Koesmarihati
Anggota Komite BRTI
Saya sangat berharap kepada DTIKN. Memang diperlukan komitmen
semua departemen untuk membuat suatu roadmap atau blue print
bagi TIK di negara ini. Malaysia, jauh–jauh hari (1998)
sudah mengeluarkan Undang-undang Multimedia, konvergensi
antara telekomunikasi, IT Penyiaran dan konten, agar kemajuan
TIK dapat mendorong ekonomi nasional. Sekarang negara tersebut
sudah mempunyai MY 868, sebagaimana Korea punya U-Korea
839, dan Singapura iN2015, sehingga tahu kemana arah TIK
ke depan dan seluruh potensi disinergikan. Pendek kata,
kebijakan pemerintah diperlukan untuk meningkatkan industri
dalam negeri dan membuka peluang usaha di bidang TIK. Masukan
dari saya, Dewan harus membuat road map yang jelas, melibatkan
partisipasi swasta nasional baik dalam penyelenggaraan maupun
manufaktur serta komitmen dari semua pihak. (AZ)
Moedjiono
Staf Ahli Menteri Depkominfo Bidang Hubungan Internasional
dan Kesenjangan Digital
DTIKN merupakan hasil kesepakatan bersama kita semua pemangku
kepentingan sebagai pilihan yang dianggap terbaik untuk
pembangunan bangsa dan negara tercinta ini dengan mendaya-gunakan
TIK sebagai pendukung (enabler) maupun sebagai sektor industri.
Selanjutnya, Dewan akan menetapkan kebijakan program prioritas
(flagship programmes), yang merupakan killer programmes,
guna mendorong pendayagunaan TIK dalam rangka mendukung
pembangunan Indonesia seutuhnya. Terkait proses penetapan
kebijakan flagship programmes ini, sangat diharapkan masukan
dari rekan-rekan yang mempunyai ide cemerlang. Sehingga
ketetapan yang diputuskan sesuai dengan hasil pemikiran
kita semua, yang membumi, bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Setelah ditetapkan program prioritas, berikutnya akan dibentuk
tim pelaksana masingmasing program. Di sinilah diharapkan
semua pemangku kepentingan bisa berkontribusi aktif. Rekanrekan
yang mempunyai ide cemerlang sangat diharapkan ikut berpartisipasi
aktif. Kita tidak perlu membedakan yang tua atau muda. Yang
terpenting adalah marilah kita semua menyumbangkan kontribusi
lewat saluran apapun nantinya. Marilah kita berkontribusi
aktif guna mendukung program kita bersama sebagai komunitas
telematika.  |