Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara  
 


    Artikel Detiknas Edisi No.17 / 2
Kemal Stamboel:
“Kita Tidak Bisa Solving Problems at Once”

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Siang itu, tepatnya awal November 2006, telepon seluler Kemal Stamboel berdering. Begitu tahu siapa penelepon, Kemal langsung penasaran. Maklum pemilik suara di ujung telepon adalah Sofyan Djalil, Menkominfo. “Ada apa gerangan sang menteri menelepon?” tanyanya dalam hati. Rupanya, “Beliau cerita soal rencana pembentukan Dewan TIK,” tutur pria yang menginjak usia 58 ini. Kontak tersebut rupanya terus berlanjut, sampai akhirnya Kemal diminta untuk ikut terlibat dalam Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DTIKN) yang dibentuk Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, 13 November lalu di Istana Bogor. Ketika ditanya mengapa ia diminta ikut bergabung dalam DTIKN, Kemal mengaku, “Hingga kini saya sendiri tidak tahu alasan pasti mengapa saya ditunjuk.” Toh lelaki kelahiran Malang ini menyambut baik ajakan untuk bergabung di Dewan. “Pak Sofyan bilang, saatnya sekarang saya melakukan sesuatu untuk negara.”

Kini, setelah pensiun dari kegiatannya sebagai konsultan, hari-hari Kemal lebih banyak dilewatkan untuk mengurus DTIKN. Setiap hari, ia berkantor di lantai 7 Depkominfo, tak jauh dari ruang Menteri. Di ruang berukuran 4 X 6 meter yang diisi dengan meja, empat kursi tamu dan satu kursi kerja, telepon, whiteboard, lemari, dan laptop, Kemal melaksanakan tugasnya. Tak ada meja kerja khusus. “Saya memang maunya yang simpel, yang saya butuhkan saja yang ada di ruang ini,” ujar Kemal yang masih menjabat sebagai pengawas BRR Aceh ini. Di ruang yang terbilang sederhana ini, justru Kemal mengemban amanah tak ringan. Sebagai wakil ketua Tim Pelaksana Dewan, ia harus berkoordinasi dengan 10 menteri yang terlibat dalam Dewan. Praktis, sejak Dewan diresmikan Presiden, ia sibuk bertemu sejumlah menteri dan mencari data di sejumlah departemen. “Saya ingin memetakan apa yang ada dengan baik dan benar, sehingga tahu bottleneck selama ini ada di mana,” ujarnya. Kepada Andy Zoeltom dan Faizah Rozy dari e-Indonesia, ia bercerita banyak seputar kinerja, program dan bagaimana menjalankan koordinasi yang selama ini selalu buntu.


Apa yang menjadi fokus Dewan?
Dalam waktu dekat, Dewan akan mencoba mencari teroosan pilihan teknologi dalam bentuk flag-ship programmes atau proyek yang betul-betul bisa memberikan manfaat dan kemajuan bagi kegiatan produktivitas masyarakat. Misalnya, Palapa Ring, backbone, fiber optic, e-education. Kami juga menitikberatkan perhatian pada sisi regulasi. Jadi tidak saja dari terobosan technology competition, tapi juga dari sisi regulasinya. Perlu saya tambahkan bahwa Dewan akan menangani isu-isu yang berkaitan dengan keputusan pemerintah, misalnya SIN. Sekarang saya sedang mencoba untuk mendata semua itu.

Pendataan yang dilakukan seperti apa?
Kami mencoba memetakan, misalnya, proyek pemerintah yang berkaitan dengan TI ada di mana, dikerjakan oleh siapa. Kami pun harus mengetahui aktivitas departemen mana yang didukung oleh DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) Lantas siapa yang akan jadi owner? Mengapa departemen A atau B yang pantas menjadi owner dari suatu proyek? Dan sebagainya.

Setelah ada pengaturan berarti tidak ada lagi tumpang tindih belanja TI di pemerintah yang mengakibatkan inefisiensi?
Intinya harus ada kesepakatan antar semua departemen bahwa siapa yang akan menangani sebuah kegiatan atau proyek. Selanjutnya, kami catat decision making process-nya di Dewan sehingga akhirnya semua sepakat. Kedua, kita sepakati bagaimana kita socialize keputusan tadi kepada seluruh departemen atau seluruh stake holder yang terlibat. Ketiga, adanya feedback mechanism untuk mengukur dan memonitor kemajuan proyek sehingga dalam rapat berikutnya, kita sudah mempunyai tiga level rapat. Yakni rapat dengan dewan pengawas, anggota, lalu dengan Dewan yang diketuai oleh menteri koordinator. Di sini feed-back dipakai sebagai cara untuk mengukur apakah keputusan Dewan telah dilaksanakan atau belum.

Setelah adanya kesepakatan antar Dewan, apa semua pihak bisa menaati dan berkoordinasi mengingat selama ini hal tersebut yang susah dilakukan?
Kesepakatan itu bisa dituangkan dalam bentuk keputusan Dewan. Apakah keputusan Dewan berupa Keppres atau dalam bentuk lain, saya belum tahu. Yang penting, saat kesepakatan itu sudah terbentuk, kami harus mendorong agar terlaksana dengan baik. Terutama saya sebagai anggota Tim Pelaksana bersama Pak Sofyan akan berusaha agar koordinasi lintas departemen berjalan dan kami optimistis bisa.

Bagaimana mengelola keberlanjutan program?
Kami mempunyai Kelompok Kerja (Pokja). Anggotanya terdiri dari mitra, penasehat, maupun anggota dari departemen terkait. Pokja dipimpin oleh penanggung jawab yang kami anggap sebagai chair. Inilah yang menjadi dapur dari seluruh proyek. Tapi Anda mesti tahu juga bahwa kita tidak bisa solving problems at once.

Jadi Dewan akan fokus ke mana dulu?
Kami mungkin akan memilih empat program tetapi belum tahu yang mana program yang akan diprioritaskan terlebih dahulu. Bisa jadi Palapa Ring, Single Window, Single Identity Number, e-education atau yang lainnya. Kami sengaja memilih empat prioritas dulu, agar fokus, sehingga tingkat suksesnya dapat terlihat. Menurut saya mari kita lebih optimistis dengan langkah yang diambil Presiden yang didukung oleh 10 menteri dan Menko. Saya pikir it’s possible. The point is make the decision, then socialize it and after that is monitoring.

Bagaimana respon para menteri yang terlibat?
Positif. Contohnya saya telepon Ibu Ani (Sri Mulyani, Red.). Saya bilang saya ingin lihat DIPA. Lantas langsung dipanggil semua direktur. Beliau bilang, Pak Kemal mau lihat DIPA, tolong perlihatkan list DIPA, dan semua list keluar. Lalu, saya ingin dari list yang ada, dipisah mana kategori yang sama, mana yang bukan. Jadi di setiap departemen bisa saja ada satu item pekerjaan yang sama persis dengan departemen yang lain. Kontennya kita perlu tahu. Ini yang sedang kita telaah. Selain itu, ada kemungkinan judulnya sama, artinya sama. Namun ada juga judulnya sama artinya beda. Intinya, kita mau kerja keras untuk mendapatkan informasi yang detail.

Hasilnya?
Kalau saya lihat alokasinya menarik sekali. Misalnya untuk satu proyek yang itemnya sama, nilainya kerap berbeda. Misalnya yang satu di atas Rp 50 miliar dan yang satu lagi cuma Rp 0,5 miliar. Saya sarankan dibagi dalam kolom pegawai, kolom belanja modal, dan kolom belanja barang. Belum tentu menterinya tahu detail. Sebetulnya kami tidak mencoba untuk mengganti DIPA yang ada tapi lebih mengarahkan ke bentuk yang lain.

Apakah itu alasan Presiden memilih Bapak, karena Bapak seorang manajer yang baik?
Presiden sebenarnya mengharapkan kesediaan orang yang pernah ada di bidang teknologi. Beliau hanya mengharapkan semua bisa berjalan dengan baik. Menurut saya ini bukan pemikiran yang baru kemarin. Di sini ada bottleneck. What’s bottleneck? It is coordination, mungkin egosentris dari masing-masing departemen. Tapi sejauh ini, setelah saya bertemu dengan sejumlah menteri, mereka terbuka. Jadi keterbukaan di tingkat menteri ada. Saya jadi enggak mengerti mengapa selama ini koordinasi tidak berjalan dengan baik. Saya berharap sekali pemerintah memberikan stimulus. Dan Dewan akan bekerja secara efektif bila semua departemen digilir untuk berbicara dan kita bahas bersama-sama.

Bicara soal koordinasi, Bagaimana melakukan koordinasi dengan 10 menteri dan seperti apa rapatnya?
Formatnya begini, kami akan menyelenggarakan pertemuan Dewan secara reguler, kalau bisa sebulan sekali yang dipimpin oleh Menko Perekonomian selaku wakil ketua Tim Pengarah (wakil dari Presiden, Red.). Dalam rapat tersebut, kami akan menetapkan agenda yakni temuan IT Project di lingkungan departemen yang dijadikan landasan. Every department knows what other department doing in IT. Lalu kami kategorikan dalam kelompok-kelompok yang disebut similar project in different department. Lalu kita bahas. Berikutnya adalah who should actually lead those project? Hasilnya sebuah kesepakatan di dalam Dewan. Setiap penanggung jawab di bawah menteri harus jelas. Dari sini baru dibuat kelompok yang kami usulkan sebagai kelompok tetap yang akan bekerja sama.

Bagaimana cara mengefektifkan kerja Pokja?
Agar pemberdayaan kelompok ini lebih kuat, kami akan isi dengan berbagai pertemuan dengan membawa ahli-ahli baik dari mitra maupun lain. Tujuannya, memastikan bahwa semuanya on the right track, metodologinya benar, dan mempunyai pemahaman yang sama. Berikutnya, kelompok akan kami monitor dari waktu ke waktu. Kami akan selalu ikut terkait dalam koordinasi, barangkali ditemukan hambatan. Misalkan ada hambatan di suatu departemen karena orangnya kurang disiplin padahal dia memegang peran penting, maka kami minta menteri untuk menangani secepatnya. Kirakira itulah yang disebut dengan koordinasi.

Bagaimana dengan keterlibatan para penasehat?
Tim Penasihat berasal dari penasihat dalam dan luar negeri serta tim mitra yang terdiri dari pemangku kepentingan TIK, praktisi, dan akademisi. Ada empat perguruan tinggi yang akan memberikan masukan baik langsung ke Presiden maupun ke Dewan.

Bisa tahu, lebih detail keterlibatan mereka?
Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengalaman di bidang TIK dan ini sangat membantu. Dalam pertemuan, they can give opinion too. Jadi kita harapkan ada dinamika. Saya kebetulan datang dengan susunan yang sudah ada. Jadi saya ikut saja.

Komentar Bapak soal perkembangan TI di Indonesia yang berjalan lambat?
Anda lihat saja output-nya. Out-put awal yang bisa Anda lihat adalah adanya upaya pemerintah untuk segera mengimplementasikan TI.

Bagaimana sejatinya cara memaknai TI?
Sederhananya begini, we must have appreciation in technology. TI diangkat pada tingkat decion maker sehingga mereka bisa mendalami dan bisa meng-appreciate teknologi dalam konteks yang wajar. Kalau kita tidak memiliki apresiasi terhadap teknologi, akan sulit membayangkan apa manfaatnya. Di sini perlu ada sebuah rasionalitas dalam menilai manfaat. Menurut saya, manfaatnya kita bahas lebih awal. Manfaat harus difokuskan pada spesifik kegunaan dari masing-masing situasi dan kondisi. Tidak selamanya sebuah solusi yang berlaku di tempat lain merupakan sesuatu yang bisa kita pakai, apalagi bila kita tidak tahu manfaatnya.

Lama berkecimpung di swasta, beda yang paling tegas antara corporate dengan pemerintahan apa?
Culture-nya beda. Kalau ada rapat, tidak selamanya siap untuk ada decision. Banyak faktor penyebabnya.

Apa ini tugas berat?
Jalanin saja, dinikmati. Ini adalah bagian menarik dalam perkembangan bangsa. Saya pikir Depkominfo sebagai domainnya very focus.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ke atas  l  Kembali