Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara  
 


    Artikel Detiknas Edisi No.17 / 4
Saatnya Berbakti Untuk Negara
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika nama Andi Siswaka Faisal masuk dalam susunan salah seorang anggota Tim Pelaksana Dewan TIK Nasional yang dicanangkan Presiden SBY melalui Keppres No. 20/2006, banyak yang terheran-heran. Siapa sih Andi Siswaka? Begitu juga ketika menyimak nama lainnya. Kali ini, rasa heran itu bukan karena tak kenal nama yang tercantum, tetapi karena justru nama-nama tersebut sudah sangat terkenal. Saking terkenalnya, malah menjadi per-tanyaan: “Lo kok mereka yang dipilih Presiden? Apa tidak ada yang lebih muda, yang juga punya kompetensi?”.
Berbagai pertanyaan tersebut wajar saja ber-munculan. Selain masyarakat berharap banyak akan ada perbaikan yang signifikan dengan adanya Dewan, sebagian lagi juga diliputi rasa pesimistis Dewan bisa berbuat banyak. Masyarakat sudah bosan dengan lembaga-lembaga seperti ini (ingat TKTI?) dan program-program yang dicanangkan (ingat Sisfonas?), yang sampai saat ini tak membuahkan hasil berarti bagi keberlangsungan kehidupan dunia TIK di tanah air. Oleh sebab itulah, ketika melihat nama-nama yang ada dalam Keppres, banyak yang bertanya akankah Dewan dapat menjalankan tugasnya?

Tapi, siapa yang merekomendasikan kelima nama anggota dan wakil ketua Dewan kepada Presiden? “Pertama kali saya ditelepon Menristek, katanya Pak Sofyan Djalil mau menelepon saya,” cerita Andi Siswaka kepada e-Indonesia ketika ditemui di kantornya di Gedung Grha Citra Caraka, PT Telkom Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Peraih gelar master dalam bidang manajemen dari American of University IOWA, AS, ini merasa heran mengapa Menkominfo ingin meneleponnya. Ketika Sofyan Djalil benar-benar meneleponnya dan menjelaskan secara umum maksud dan tujuan adanya Dewan, ia diajak untuk bergabung. “Karena saya dipercaya, ya saya siap saja. Apalagi dalam dunia telekomunikasi, secara tak langsung Pak Sofyan kan atasan saya, jadi saya harus siap menerima tugas yang diembankan kepada saya,” kata Andi. Tapi, Andi yang saat ini menjabat sebagai senior advisor CEO di PT Telkom Indonesia itu tetap tak tahu siapa yang merekomendasikannya untuk masuk dalam keanggotaan Dewan. Di PT Telkom, Andi termasuk orang lama. “Saya boleh dibilang paling tua di sini,” ceritanya. Jabatan yang pernah dipegangnya adalah sebagai vice president Perencanaan Perusahaan dan Teknologi, Direktorat Perencanaan dan Teknologi (1995-1996) dan sebagai direktur Perencanaan dan Teknologi (1996-2000) PT Telkom Indonesia.

Kemal Stamboel
Senada dengan Andi, Kemal Stamboel pun, mendapat telepon dari Sofyan Djalil ketika diajak bergabung dalam Dewan. “Awal November lalu saya mendapat telepon dari Pak Sofyan. Kebetulan saya memang sudah lama kenal beliau,” cerita Kemal. Dari situlah kemudian Kemal ditawari untuk ikut bergabung. Kenapa tertarik? “Saya pikir ini bidang saya, masa saya mengatakan tidak bersedia. Lagipula kini saatnya saya melakukan sesuatu untuk negara,” ujar sarjana Psikologi Universitas Padjadjaran (1976) ini optimistis. Sebelum diangkat sebagai wakil ketua Tim Pelaksana, Kemal pernah duduk sebagai management consulting services Indonesia, PricewaterhouseCoopers (1982-2002), business consulting service country leader Indonesia PT IBM Indonesia (2002-2004), dan sebagai anggota Dewan Pengawas BRR Aceh Nias (masih menjabat sampai saat ini). Ketika ditanya kenapa ia dipilih, seperti Andi Siswaka, ia mengatakan tidak tahu. “Mungkin karena saya memiliki latar belakang manajemen dan TI,” kata pendiri Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) ini. Memang dalam meniti kariernya, Kemal banyak menangani soal strategi dan operasional perusahaan, strategic visioning, transformasi organisasi, perencanaan dan pengembangan SDM, bisnis konsultasi, dan meng-handle klien dalam hal implemetasi TI mereka.

Jonathan Limbong Parapak
Siapa tak kenal Jonathan Limbong Parapak? Pria kelahiran Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1942, bukanlah orang asing dalam dunia telekomunikasi di Indonesia. Peraih S2 dari Universitas Tasmania ini, pernah duduk sebagai direktur utama (1980-1991) dan komisaris (1991-1999) PT Indosat. Karier puncaknya diraih ketika ia diangkat sebagai sekretaris jenderal Departemen Parpostel (1991-1998) dan Departemen Parsenibud (1998-1999). Segudang pengalaman lain pernah dilaluinya, seperti anggota Dewan Gubernur Intelsat mewakili ASEAN, chairman Intelsat Board of Governors, chairman ITU World Plan for Asia and Oceania, ketua Panitia Konperensi negara-negara OKI di Bandung, anggota Dewan Riset Nasional, ketua Yayasan Pendidikan Teknik Indonesia, ketua Yayasan Penelitian dan Pengembangan Telekomunikasi dan Informasi, anggota MPR, dan chairman/Preskom beberapa perusahaan di lingkungan LIPPO-AcrossAsia Multimedia (Indonesia). Kini Parapak masih terus berkiprah dalam dunianya, dan saat ini dipercaya sebagai rektor Universitas Pelita Harapan Jakarta.

Giri Suseno
Giri saat ini duduk sebagai ketua umum Mastel (Masyarakat Telematika), setelah dalam Munas ke-5 organisasi itu, ia terpilih kembali untuk jabatan kedua kalinya. Lulusan Master of Science in Engineering (Mechanical Engineering) dari University of Michigan, Ann Arbor, Michigan, AS, ini pernah duduk sebagai direktur jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan, dan mencapai puncak karier di pemerintahan ketika ia dipercaya sebagai Menteri Perhubungan Kabinet Pembangunan VII, dan Kabinet Reformasi Pembangunan. Kini Giri aktif di berbagai kegiatan komunitas telematika, sampai akhirnya ia dipercaya Presiden untuk duduk sebagai anggota Tim Pelaksana dewan TIK Nasional.

Jos Luhukay
Jos bukan orang baru di komunitas TI. Sudah lama ia malang melintang di sana. Sampai akhirnya ia dipercaya untuk duduk sebagai CEO Lippobank. Di sini kepiawaiannya dalam memanfaatkan TI untuk menunjang kinerja perusahaan diuji. Hasilnya, Lippobank kini sudah bertengger sebagai bank papan atas. Di tengah kesuksesannya itu, per Oktober 2006, ia mengundurkan diri, dan kini mengelola perusahaan sendiri di bawah bendera Indoconsult.


Hari Sulistyono

Untuk meyenangkan hati ayahnya, Hari rela kuliah di fakultas kedokteran UGM. Tapi akhirnya ia mengikuti kata hatinya, dan pindah kuliah ke jurusan teknik industri di University of South Florida, Tampa, AS. Kembali dari perantauan, Hari bergabung dengan PT Usaha Sistem Informasi Jaya (PT USI Jaya), sebuah perusahaan yang mengageni komputer IBM untuk pasaran Indonesia. Di sana ia berkarier dari bawah, mulai dari jabatan system engineer, program sistem asuransi, customer & product support manager, general manager, hingga akhirnya ia menduduki kursi presiden direktur menggantikan Y.W. Yunardy. Keluar dari PT USI Jaya, Hari pindah ke PT LinkNet dan dipercaya sebagai presiden direktur. PT LinkNet adalah sebuah perusahaan penyelenggara jasa internet (ISP). Hari juga sempat dipercaya sebagai direktur TVRI pusat, namun di sana ia tak lama. Kemelut yang terjadi dalam perusahaan pemerintah itu membuat Hari dicopot dari sana.
(AZ)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ke atas  l  Kembali