| Artikel
Detiknas Edisi No.22 / 1 |
Kemal
Stamboel:
"Detiknas
Fokus Pada Strategi dan Kebijakan"
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setahun
sudah dewan ini dibentuk, masyarakat bertanya-tanya apa
sih yang sudah diperbuat Detiknas? Untuk mendapat jawaban
dari pertanyaan tersebut, wartawan e-Indonesia Andy Zoeltom,
E. Ari Astuti, dan fotografer Yasmin menemui Kemal Stamboel,
wakil ketua Tim Pelaksana Detiknas di kantornya di gedung
Depkominfo Lantai 7 Jakarta Pusat. Berikut petikan perbincangan
mereka.
Bisakah Bapak menjelaskan pada kami bagaimana sebetulnya
cara dewan ini bekerja?
Pertama adalah mewujudkan mekanisme yang bisa mewujudkan
peran Detiknas. Karena banyak yang kurang paham akan peran
dan mekanisme Detiknas. Dalam kerjanya, Detiknas terbagi
dalam dua kelompok besar, Tim Pengarah yang dipimpin oleh
Presiden dan anggotanya terdiri dari 10 menteri termasuk
saya sendiri dan Tim Pelaksana yang dipimpin oleh Menkominfo
yang anggotanya sebanyak 7 orang, dua sekretaris dan wakil,
dan 5 anggota. (Di bawah kepemimpinan Menkominfo M. Nuh,
masuk dua anggota baru masing-masing Suhono Harso Supangkat
dan Abdullah Alkaff, Red.)
Selama ini kita mencoba untuk menciptakan aturan main agar
sebulan sekali tim pengarah ini bisa bertemu. Rencananya
sebulan sekali pertemuan dipimpin oleh Pak Budiono. Saat
ini adalah waktu kerja bagi para menteri yang diberikan
mandat untuk melaksanakan 7 flagship. Tim Pelaksana berupaya
memberi dukungan terhadap pokjapokja di masing2 departemen
yang mengelola flagship tersebut dengan memberi masukan
kerangka acuan kerja tentang governance, evaluasi TIK, dan
memberi masukan tentang hal-hal yang kiranya menjadi hambatan.
Jadi peran Tim Pelaksana ini sebagai fasilitator dan pada
saat yang sama melakukan koordinasi terhadap langkah-langkah
yang sekiranya diperlukan. Tim Pelaksana juga mempunyai
Pokja IT Governance dan Pokja EvaTIK yang tugasnya mengeluarkan
pedoman. Pada saat yang sama Pokja EvaTIK akan melakukan
evaluasi terhadap masing-masing Pokja di masing-masing departemen.
Bahan-bahan inilah yang akan dibahas oleh Tim Pelaksana
yang akan disampaikan kepada Tim Pengarah. Jadi Tim Pelaksana
mendapatkan feed back terhadap perkembangannya. Feed back
inilah yang akan digunakan untuk pengawasan dalam konteks
koordinasi antar-departemen yang tergabung dalam 7 flagship.
Tugas Pokja EvaTIK ?
Pokja EvaTIK itu langsung berhubungaan dengan Pokja 7 flagship
di tiap-tiap departemen. Pokja EvaTIK bertugas melakukan
review dan monitoring terhadap perkembangan Pokja 7 flagship
tadi. Tiap departemen yang terkait 7 flagship tersebut memang
punya kewajiban untuk memberikan laporan kepada Pokja EvaTIK.
Bagaimana cara Detiknas mensosialisasikan
keberadaannya?
Setiap anggota punya kewajiban untuk menyampaikan apa yang
dilakukan oleh pemerintah. Bisa lewat seminar-seminar yang
kadang kita diminta jadi pembicara. Atau lewat media massa.
Prinsipnya, kami tidak mengkonfrontasi kepada masyarakat
ini lho program Detiknas, tapi lebih kepada program pemerintah
soal TIK ke depan. Peran detiknas adalah menyampaikan ini
dan apa yang telah dicapai dalam menciptakan masyarakat
informasi.
Saya ingin menghindari sebuah perangkap seolah-olah hal
itu dikerjakan oleh Detiknas. Detiknas tidak terlibat dalam
implementasi, kita hanya fokus pada strategi dan kebijakan.
Lha wong nggak punya budget, melainkan hanya orang-orang
yang berdedikasi yang ingin melaksanakan program ini. Harapan
terhadap Detiknas bisa digambarkan melalui seberapa cepat
upaya pemerintah dalam menerjemahkan aktivitas-nya di bidang
TIK sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Itu saja ukurannya.
Tidak disebut Detiknas juga tak apa-apa.
Bagaimana evaluasi bapak terhadap
kemajuan 7 flagship yang ada?
Yang menonjol adalah education dan NSW dan baru-baru ini
e-procurement. Yang lainnya adalah Palapa Ring dan Software.
Yang perkembangannya perlu kita dorong lagi adalah NIN dan
e-anggaran. Yang lain menurut saya, dengan segala keterbatasan,
mereka sudah mulai bergerak.
Kalau kita lihat satu per satu,
e-education?
Untuk education yang terbesar adalah upaya mengintegrasikan
jaringan yang tadinya dua sekarang sudah menjadi satu. Yang
kedua adalah terobosan organisasi sehingga dapat lebih terintegrasi,
terutama dalam pengelolaan jaringannya. Yang ketiga adalah
percepatan untuk mendorong konten. Anggarannya sendiri sudah
menyatu dan akan kita evaluasi lagi, tim Pokja EvaTIK yang
akan melakukannya.
NSW?
Lumayan baguslah. Mereka sudah punya target untuk melakukan
pilot Desember ini di Tanjung Priok. Progresnya sangat menggembirakan.
Untuk mengantisipasi segala sesuatunya saat ini sedang dipersiapkan
payung hukum berupa keputusan Presiden yang akan memberikan
kerangka agar itu bisa berjalan. Ini baru pilot, tapi sudah
ada yang real yang sudah kita coba kerjakan.
E-procurement?
Namanya EGP yaitu e-government procurement. Saat ini sudah
ada kerja sama dengan 4 gubernur. Dan mereka sekarang sedang
dipersiapkan final design implementation dari Sumbar, Kaltim,
Jabar, Jatim, dan pada saat yang sama mereka dibiayai oleh
USAID.
Palapa Ring?
Kita sudah ada konsorsiumnya. Mereka sudah sampai pada tahap
finalisasi untuk segera mulai. Yang harus digaungkan adalah
fully financed by private sector. Ini adalah upaya yang
seluruhnya dikembangkan oleh private sector. Saya anggap
paradigm change-nya luar biasa. Proses ini secara tidak
langsung mempercepat proses pelaksanaan USO dan akan mempercepat
pelaksanaan koneksivitas institusi pendidikan. Kalau ini
sudah jadi, semua akan bisa jalan. Ini lokomotifnya.
Software?
Akhirnya flagship ini akan fokus pada pemerintahan sebagai
cara mengukur seberapa jauh dia serius dalam legal software.
Kita sudah membuat kerangka 2 tahun untuk melakukan perbaikan
penggunaan konsep itu di pemerintahan. Program ini sudah
kita ujipublikan kemarin di mana kita menghasilkan semacam
panduan mengenai bagaimana kita memperbaiki pengelolaan
IT di kantor-kantor pemerintah. Tentu ini seiring sejalan
dengan rencana pemerintah untuk membentuk CIO. Panduan ini
akan dibuat web based, sehingga masing-masing departemen
diberikan kesempatan untuk melakukan assessment dari penggunaan
PC di instansi masing-masing. Karena biasanya jika dikasih
PC, maka use it as you like it. Nah, nantinya ada aturan-aturannya
tentang accountability PC. Ini sudah jadi dan akan ada di
website kita.
E-anggaran?
Untuk yang satu ini, sebetulnya kita butuh konfirmasi tentang
scope e-anggaran. Kalau dari pihak Depkeu scope-nya hanya
lingkup anggaran saja. Sedangkan yang kita inginkan adalah
end to end prosesnya itu mulai anggaran itu diusulkan sampai
ke final approval. Di tengahnya ada konsolidasi dari Keuangan,
dari Bappenas, sampai keputusan di DPR. Nah, kita belum
memperoleh kesepakatan tentang prosesnya ini.
Soal Nomor Induk Nasional (NIN)?
Untuk NIN, fokus Depdagri adalah menyelesaikan SIAK, NIK-nya
adalah basis untuk NIN. Tahun depan kita mulai secara paralel
untuk design NIN.
Tampaknya ini yang lambat geraknya?
Tidak bisa dibilang begitu karena fokus mereka adalah mempersiapkan
data kependudukan dan itu adalah mandatnya. NIN adalah mandat
baru untuk mengelola nomor induk nasional. Jadi kenapa tidak
bisa tahun alu, karena dalam budget mereka tidak ada NIN.
Tahun depan ada.
Apa sih sebenarnya tantangan
terbesar yang dihadapi Detiknas?
Tantangan terbesar sebenarnya ketika kita mengharapkan ada
right way masuk ke daerah tersebut, apakah Pemda paham untuk
memfasilitasi ini dan tidak merasakan hal ini sebagai sebuah
instruksi/perintah. You are creating of the network and
you are part of the network. Yang harus mereka pikirkan
adalah melepaskan diri dari isolasi dan membuat konkektivitas
ini menjadi “hidup” baik untuk intern di kabupatennya
sendiri maupun perluasan koneksivitas lain. Inilah yang
perlu disosialisaikan.  |