Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara  
 


    Artikel Detiknas Edisi No.22 / 2
1 Tahun Detiknas
Baru Dikenal, Begitu Banyak Harapan

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setahun telah berlalu sejak Detiknas diresmikan Presiden SBY di Istana Bogor 13 November 2006. Banyak yang bertanya apa yang sudah dikerjakan? Sosialisasi tampaknya mesti terus dilakukan agar masyarakat paham tugas yang diemban Dewan.


Tanpa terasa satu tahun sudah usia Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Detiknas). Dewan yang dibentuk Presiden SBY melalui Kepres No. 20/2006, 11 November, itu diberi amanah untuk merumuskan kebijakan umum dan arahan strategis pembangunan nasional, melalui pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Selain itu Dewan juga diminta untuk melakukan pengkajian dalam menetapkan langkah-langkah penyelesaian permasalahan strategis yang timbul dalam rangka pengembangan TIK. Melakukan koodinasi dengan instansi pemerintah pusat/daerah, BUMN/BUMD, dunia usaha dan lembaga profesional dalam rangka pengembangan TIK juga menjadi tugas Dewan, selain memberikan persetujuan atas pelaksanaan program TIK yang bersifat lintas departemen agar efektif dan efisien.

Melihat tugas tersebut, tentu menjadi pertanyaan apa yang sudah dicapai Detiknas dalam usianya setahun ini? “Detiknas tidak terlibat dalam implementasi, kami tidak mengerjakan proyek,” kata Kemal A. Stamboel, wakil ketua Tim Pelaksana Detiknas, ketika diminta komentar soal apa yang sudah dicapai Dewan selama setahun ini. Oleh sebab itu, secara fisik tidak ada hasil yang bisa dilihat, tambah Kemal. Menurut Kemal lagi, Detiknas fokus pada strategi dan kebijakan. Jadi harapan terhadap Detiknas bisa digambarkan melalui seberapa cepat upaya pemerintah dalam menerjemahkan aktivitasnya di bidang TIK sehingga bermanfaat bagi masyarakat (lihat wawancara “Kemal Stamboel: Detiknas Fokus Pada Strategi dan Kebijakan”).

Tapi okelah. Dalam waktu satu tahun apa juga sih yang bisa dilakukan? Apalagi ketika Dewan dibentuk anggaran pemerintah sudah disusun, sehingga Dewan juga tak bisa banyak berkontribusi dalam penyusunan dan pengontrolan anggaran TI di instansi pemerintah. Yang bisa dilakukan Dewan saat ini adalah menetapkan flagship apa saja yang penting untuk menjadi perhatian utama dalam pembangunan TIK di Indonesia dewasa ini. Akhirnya disepakati ada 7 flagship, yaitu flagship e-education, NSW, e-procurement, Palapa Ring, Software Legal, eAnggaran, dan Nomor Identitas Nasional (NIN). Lewat 7 flagship itulah Dewan mulai bergerak membenahi masalah-masalah yang dihadapi dalam tiap-tiap flagship agar dicarikan jalan keluarnya. Bukan itu saja. Dalam menjalankan tugasnya, Dewan juga sudah mengeluarkan Pedoman Umum Tata Kelola TIK Indonesia dan Kode Etik dan Piagam Evaluasi yang akan menjadi panduan dalam pembangunanTIK di tanah air.

Sosialisasi
Dalam keberadaannya yang sudah satu tahun, apakah Detiknas sudah dikenal di masyarakat, terutama yang menjadi stake holder-nya? Sebagian sudah, namun lebih banyak yang belum. “Saya tahu mengenai Detiknas, baru September kemarin ketika mengikuti seminar Evaluasi E-government yang diadakan kementerian PAN,” begitu pengakuan Ny. J.M. Pesireron, kepala KPDE Kota Ambon. Barangkali Kota Ambon terlalu jauh dari Jakarta. Tapi pengakuan Nana Sujana (kepala KPDE Kabupaten Tasikmalaya), Sofyan Ginting (kepala KPDE Pematang Siantar), Ani Mufaidah (Kepala Subbag PDE Kota Balikpapan), dan Dwi Arie Putranto (asisten ekonomi dan pembangunan Sekda Kota Pekalongan), yang mengatakan sama seperti pengakuan Ibu Pesireron, menyadarkan kita bahwa sosialisasi tentang keberadaan Detiknas perlu dilakukan terus-menerus.

Karena baru mengenal, maka ketika ditanya apa manfaat keberadaan Detiknas sudah dirasakan, 20 orang yang menjadi nara sumber majalah e-Indonesia —yang berasal dari berbagai daerah— semua menyatakan belum ada. Meskipun demikian mereka semua berharap banyak terhadap Detiknas. Entah apa yang ditangkapnya tentang keberadaan Detiknas, yang jelas Edi Susanto, kepala Kantor Infokom/PDE Kabupaten Tanah Datar, berharap agar adanya Detiknas bisa membuat TI menjadi murah. Pesireron dari PDE Ambon malah berharap lembaga ini dapat membantu perkembangan TIK di Indonesia, terutama untuk kawasan Timur yang jauh tertinggal, baik infrastuktur maupun SDM-nya. Harapan tinggal harapan. Kerja keras tampaknya mesti dilakukan oleh Tim Pelaksana agar harapan yang digantungkan masyarakat dapat terlaksana. Selamat ulang tahun Detiknas.
(AZ)

     Harapan itu Sangat Tinggi
 
Nadjib Usman
(Kepala Bapetikom Pemkot Surabaya)
Saya berharap Detiknas dapat bergerak simultan pararel. Apa yang bisa bermanfaat atau bisa dikerjakan untuk pusat dan juga untuk provinsi sekaligus juga untuk kabupaten dan kota. Kalau mungkin dibentuk Tim Kecil yang merupakan gabungan unsur kabupaten/kota dan provinsi agar Detiknas bisa memetakan masalah yang ada.
 
     
 
Devananda
(Mantan Kepala KPDE & Arsip Kota Magelang)
Saya berharap Detiknas dapat mendukung TIK di Indonesia dengan membentuk CIO sampai kabupaten/kota dan melakukan sosialisasi tentang kegiatannya.
 
     
 
Sumasriyana
(Kepala Kantor PDE Bantul)
Saran saya Detiknas dapat membentuk pusat data dan pengembangan TIK dari tingkat 1, tingkat 2, dan nasional. Selain itu agar Detiknas juga mengatur supaya peraturan yang dibuat tentang TIK tidak tumpang tindih dan aturan yang telah dibuat tidak cepatcepat diganti sehingga aturan tersebut membingungkan kami yang di daerah.
     
 
Engkos Koswara
(Staf Ahli IT Ristek)
Mudah-mudah an Detiknas dapat merealisasikan produk ICT dalam negeri dengan biaya murah dan terjangkau (seperti OSS, open board, dll).
     


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ke atas  l  Kembali