Kota Padang Berbenah Menuju Layanan
Prima
Tak
ingin menjadikan layanan yang cepat, mudah, dan transparan hanya
sebuah slogan, Pemerintah Kota Padang terus berbenah. Sejumlah
pekerjaan rumah telah menanti un-tuk segera direalisasikan.
Apabila
kita mempersulit pelayanan kepada masyarakat maka Allah SWT akan
mempersulit kita masuk sorga. Kata-kata bernada agamis ini menjadi
cambuk bagi kalangan pemerintah di Pemerintah Kota (Pemkot) Padang,
untuk melayani warga Kota Padang. Sebagai pengingat, kata-kata
itu di-pasang di papan cukup besar dan bisa ditemui di sejumlah
tempat strategis.
Begitulah salah satu trik, bagaimana pemerintah setempat berusaha
untuk menjadi pelayan yang baik bagi warganya. Di bawah duet Fauzi
Bahar dan Yusman Karim, Ibu Kota Sumatera Barat ini terus berbenah.
Salah-satu pembenahan adalah bidang public service. Seperti diungkapkan
Fauzi. “Saya harus mengetahui the basic needs bagi masyarakat
Padang. Seperti pelayanan prima, cepat, dan murah. Kami melakukan
berbagai langkah untuk mewujudkan layanan prima,” tutur
Fauzi.
Salah-satu terobosan yang sudah dilakukan adalah pembuatan akta
kelahiran. Melalui Dinas Kepen-dudukan Kota Padang, waktu pengurusan
akta kelahiran dipangkas dari hitungan pekan menjadi satu jam.
Konsekuensinya, sang walikota harus menandatangani akta kelahiran
hingga 100 buah per hari. Dalam satu bulan, berdasarkan data Oktober
2004, jumlah akta kelahiran yang berhasil diproses sebanyak 14.322
akta.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kota Padang Membuka Pintu untuk Investor
Sadar
dana untuk pembangunan minim, Pemkot Padang membuka diri terhadap
inves-tor. Sejumlah potensi dan peluang bisnis memiliki prospek
bagus.
Sejak
2004 lalu, daerah yang memiliki motto “Padang Kota Tercinta
Kujaga dan Kubela” ini telah membuka pintu lebar-lebar bagi
investor. Seper-tinya Pemkot Padang sadar, bahwa mereka tidak
mungkin mengandalkan pem-bangunan berdasarkan dana dari APBD semata.
Dana dari provinsi maupun pusat tidak bisa dijadikan sebagai modal
untuk pembangunan. Sebagai gambaran, APBD Kota Padang pada 2004
adalah Rp 430 miliar. Dana se-jumlah itu hanya Rp 70 miliar yang
bisa digunakan untuk pembangunan. Selebihnya, dana digunakan untuk
keperluan gaji pegawai dan pembiayaan aparatur Pemkot Padang.
Pada ini, rapornya juga serupa. Dari jumlah APBD sebesar Rp 480
miliar, hanya 20% saja yang digelontorkan untuk pembangunan. “Partisipasi
dari investor menjadi penting untuk memajukan Kota Padang,”
tutur Walikota Padang, Fauzi Bahar.
Dijelaskan oleh pria yang menamatkan studinya di IKIP Padang pada
1986 serta Dik Pafung II pada 1997 ini, sejak lima tahun terakhir
pertumbuhan ekonomi Kota Padang menunjukkan tren positif, meski
pergerakannya masih lamban. Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi
kota Padang pada 2003 sebesar 4,98%, dan pada 2004 sebesar 5,5%.
Nah, tahun ini, Pemkot mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 6%.
Menurut Fauzi, “Pertumbuhan ekonomi akan meningkat kalau
investasi yang ditanamkan meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Fauzi Bahar (Walikota Padang)
“Zero Cost untuk Investor”
Kota
Padang, belakangan ini terus berbenah. Pintu dibuka lebar untuk
me-nyambut kedatangan investor. Terlihat jelas, pembangunan lebih
digalakkan. Sejumlah sarana dan prasarana dibangun untuk melengkapi
yang ada. Pendeknya, visi untuk mewujudkan Kota Padang menjadi
pusat perekono-mian dan pintu gerbang perdagangan terpenting di
Indonesia Bagian Barat pada 2008, bakal direalisasikan. Sejalan
dengan itu, pelayanan kepada ma-syarakat turut ditingkatkan.
Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana kota yang berulang tahun
ke-366 pada 7 Agustus 2005 ini membuka diri terhadap investor,
berupaya meningkatan kinerja aparat guna melayani masyarakat,
penggunaan ICT di lingkup Pemkot Padang, hingga pemberian sanksi
kepada pegawai yang terlibat korupsi dan punggutan liar, Faizah
Rozy dari e-Indonesia menemui Walikota Padang Fauzi Bahar di kediamannya,
belum lama ini. Berikut nukilan wawancara dengan pria kelahiran
Koto Tangah, pada 16 Agustus 1962 lalu itu.
| Artikel
selengkapnya baca di Majalah e-Indonesia
Edisi 04-Agustus 2005 |