E-GOVERNMENT
DI KABUPATEN SIDOARJO
Menjadi
Abdi Negara yang Sesungguhnya
Meningkatkan
pelayanan sehingga berkualitas dan bersih dari KKN melalui implementasi
e-govern-ment, menjadi komitmen semua pihak di Pemkab Sidoarjo.
Penerapan ICT di daerah ini, layak menjadi rujukan.
Kantor
Bupati Siduarjo
Suatu siang pada medio Februari lalu, seorang ibu (sebut saja
Yuni) terlihat panik, ketika mengetahui acara yang ditunggu-tunggunya
pada salah-satu radio kesayangannya usai mengudara. Yuni, ibu
dari dua orang putra ini, me-mang baru saja terjaga dari tidur
siangnya, ketika jarum jam telah menunjukkan pukul 14.00 WIB.
Sedianya Yuni berniat akan mengadukan masalah air PAM, pada acara
Pelayanan Informasi P3M di salah-satu radio kesayangan-nya yang
mengudara pada pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Pasalnya, air ledeng
di rumah Yuni hanya keluar setetes demi setetes, sejak dua hari
terakhir tanpa sebab yang jelas.
Namun Yuni tak kehilangan akal. Siang itu, ia bergegas menuju
warnet tak jauh dari rumahnya. Melalui surat elek-tronik yang
ditujukan ke Pusat Pelayanan Pengaduan Masyarakat atau P3M, Yuni
menyampaikan unek-uneknya. Dalam hitungan beberapa hari, persoalan
air ledeng di rumah Yuni pun teratasi. Ini bukan kali pertama
Yuni menyampaikan keluhan, saran, atau masukan apa pun kepada
P3M. Syukurnya, kata Yuni, “Keluhan saya selalu ditanggapi
oleh instansi terkait.”
Ilustrasi di atas sepertinya pas untuk menggambarkan upaya Kabupaten
Sidoarjo menerapkan e-government dalam kerangka good governance.
Bagi kabupaten yang masuk dalam provinsi Jawa Timur ini, pengembangan
Information and Communication Technology (ICT) memang merupakan
prioritas. Sehingga tidaklah mengherankan bila penerapan TI dalam
tugas-tugas administrasi di perkantoran cukup signifikan. Misalnya
kalau kita melongok web P3M, akan terlihat jelas bagaimana respon
masyarakat Sidoarjo yang cukup tinggi. Seluruh pengaduan masyarakat
Sidoarjo yang disam-paikan melalui P3M, akan mendapat jawaban
dari Satuan Kerja yang ada. “Secara teknis seluruh pengaduan
harus dijawab paling lama satu minggu. Bila lebih dari satu minggu
otomatis kami akan mendapat teguran dari Bapak Bupati,”
ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten (Bappekab)
Sidoarjo, Vino Rudy Muntiawan. Untuk diketahui, pengembangan ICT
di Kabupaten Sido-arjo ditangani oleh Kantor Pengolahan Data Elektronik
(KPDE).
Bermacam
Back Office
Sesuai dengan salah-satu misi Kabupaten Sidoarjo 2006—2010
(yaitu mewujudkan pelayanan aparatur yang berkualitas, bersih,
dari KKN dan profesional dalam kerangka good governance), tak
heran bila Pemkab Sidoarjo terus meningkatkan pelayanan publiknya.
Bupati Sidoarjo Win Hendrarso sendiri, jauh-jauh hari sudah wanti-wanti
agar jajarannya mengubah mindset birokrat. “Bila dulu birokrat
identik dengan memberikan pelayanan, maka saya selalu mengatakan
kepada pejabat dan para staf agar memberikan pelayanan yang terbaik
bagi masyarakat,” pesan Win kepada jajarannya. Erny Setyawati
yang didapuk menjadi Kepala Kantor PDE lebih jauh menjelaskan,
penerapan e-government di Kabupaten Sidoarjo melalui 3 unsur,
yakni: G2C (government to citizen atau pelayanan pemerintah kepada
masyarakat), G2G (government to government atau pemerintah dengan
pemerintah atau antar satuan kerja pemerintah daerah), serta G2B
(government to business atau pemberdayaan pela-yanan dunia usaha
oleh pemerintah).
Penerapan G2C menuntut dikedepankannya pelayanan informasi kepada
masyarakat yang mencakup perencanaan pembangunan dan hasil-hasil
pembangunan. Kedua, perintisan pelayanan secara inter-aktif seperti
pembangunan partisipatif, pengajuan pendirian koperasi baru, pelayanan
KTP dan KK online, pengajuan dana bergulir koperasi dan usaha
kecil menengah dan pelayanan perpustakaan online. Ketiga adalah
pelayanan kepada masyarakat yang selama ini telah berjalan secara
interaktif seperti Pusat Pelayanan Pengaduan Masyarakat atau P3M.
Kesibukan
di KPDE Siduarjo
Sebagai gambaran, salah-satu kecepatan pelayanan bisa disimak
di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Sidoarjo. Proses penye-lesaian
produk layanan bidang kependudukan dan catatan sipil hanya dalam
hitungan lima hingga sepuluh menit, dengan catatan berkas persyaratan
sudah lengkap. Cepatnya pengurusan produk kependudukan dan catatan
sipil mengingat sudah dipergunakannya sistem jaringan online antara
kecamatan yang berjumlah 18 dengan kantor dinas kependudukan dan
catatan sipil Sidoarjo.
Sementara itu, penerapan G2G sejauh ini diwujudkan dengan me-lakukan
sharing data P3M untuk perencanaan pembangunan, eva-luasi hasil
pembangunan dan monitoring satuan kerja pemerintah daerah (SKPD)
terkait dengan aduan masyarakat. Adapun penerapan G2B, dimplementasikan
dengan melakukan promosi produk-produk UKM, layanan per-izinan
online, konsultasi koperasi dan usaha kecil menengah secara online,
konsultasi layanan per-izinan, layanan pengajuan block plan online,
dan layanan peta potensi investasi.
Sementara aplikasi back office yang sudah dimiliki Kabupaten Sidoarjo
sejak 2000, salah-satunya adalah Simpeg (Sistem Informasi Manajemen
Kepegawaian). Seperti diketahui, aplikasi ini mem-berikan keuntungan
berupa kemudahan manajemen kepegawaian dan bermanfaat mencatat
riwayat dan data Pegawai Negeri Sipil (PNS), memperlancar pengaturan
proses mutasi pegawai, kenaikan gaji berkala, serta pengembangan
karir dan pensiun.
Aplikasi back office lain yang telah diterapkan di Pemda Sidoarjo
adalah Simtap (Sistem Informasi Manajemen Layanan Perizinan Satu
Atap) pada 2001, Sipido (Sistem Informasi Perpustakaan Sidoarjo)
yang bermanfaat mempercepat pencarian buku pustaka, dan SIAK (Sistem
Informasi Administrasi Kependudukan) yang diterapkan pada 2002.
Menginjak 2003, aplikasi back office yang dimiliki Pemda Sidoarjo
bertambah, yakni SIPA (Sistem Informasi Penyusunan Anggaran) yang
memberi benefit mempercepat administrasi dalam penyusunan anggaran,
Simbada (Sistem Informasi Manajemen Barang dan Asset Daerah) untuk
menginventarisasi barang dan asset daerah, SIMLH (Sistem Informasi
Manajemen Lingkungan Hidup) untuk mengetahui hasil survai industri
guna merumuskan kebijakan.
Pada 2004 aplikasi back office makin bertambah. Sebut saja SIMRSD
(Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Daerah), SIMP3M (Sistem
Informasi Manajemen Pusat Pelayanan Pengaduan Masya-rakat), SIMTU
(Sistem Informasi Manajemen Tata Usaha). Nah, pada 2005, aplikasi
seperti SIMBG (Sistem Informasi Manajemen Block Grant), Simcapil
(Sistem Informasi Catatan Sipil), SIMDK (Sistem Informasi Manajemen
Dinas Kebersihan) dan SIM-KUKM (Sistem Informasi Manajemen Koperasi
dan Usaha Kecil dan Menengah) sudah diterapkan di kabupaten seluas
71,424 hektar ini.
Bagaimana dengan pembangunan infrastruktur? Menurut Erny, Sidoarjo
telah melakukan pemba-ngunan infrastruktur berupa koneksi kabel
untuk mendukung koordinasi antar pejabat di lingkup pemerintahan
Kabupaten Sidoarjo dengan menggunakan koneksi kabel. Wilayah koneksi
mencakup kantor Setda, KPDE, Bappekab, Dinas Infokom, Dinas PU
Bina Marga, dan Dinas Sosial. Selain itu, telah pula dilakukan
koneksi nirkabel di 11 instansi, sementara cara dial up digunakan
di Polres, PLN dan Kantor Pajak. Terkait public service, masih
kata Erny, aplikasi front office yang sudah dijalankan adalah
melalui face to face, online, dan gabungan keduanya yakni secara
online dan face to face. Layanan yang cepat, dengan birokrasi
yang mudah serta transparan juga bisa ditemui di kantor Samsat
Sidoarjo. Masyarakat dimanjakan dengan layanan online ketika mengurus
pendaftaran kendaraan baru, perpanjangan STNK, pendaftaran mutasi/BBN
II, serta pendaftaran secara khusus. Asal tahu saja, proses layanan
memakan waktu tak lebih dari sepuluh menit. Urusan pencetakan
plat nomor juga dilakukan dengan cara online.
Untuk
lengkapnya baca di Majalah.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------