KUSMAYANTO
KADIMAN
Menteri
Riset dan Teknologi
Teknologi
Anak Negeri Cegah Tsunami
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah
dua tahun lalu Aceh dilanda tsunami, belum lama ini kita kembali
dikejutkan dengan tsunami yang melanda pantai selatan pulau Jawa.
Namun banyak pihak menilai, kita tak banyak belajar dari apa yang
terjadi di Aceh, karena terbukti pada kejadian tsunami kali ini,
masih banyak korban yang terjadi. Peringatan dini yang katanya
sudah disiapkan, tak banyak berfungsi. Bagaimana sebenarnya kesiapan
pemerintah dalam mengantisipasi bencana alam tsunami ini, wartawan
e-Indonesia Andy Zoeltom dan Ardi Winangun menemui Menteri Riset
dan Teknologi Kusmayanto Kadiman di kantornya di gedung BPPT Jln.
MH. Thamrin, Jakarta Pusat, belum lama ini untuk mendapat penjelasan.
Berikut petikan wawancaranya.
Sebenarnya
tsunami sudah sering melanda Indonesia tetapi mengapa baru mendapat
perhatian sekarang?
Saya tidak mau berpikir negatif. Sebetulnya
itu (tsunami) kejadian dari dulu, cuma ketika itu tidak menjadi
isu karena demokrasi belum terjadi. Sekarang semua orang boleh
ngomong. Sekarang tsunami menjadi berita besar karena demokrasi.
Dulu pers terkendali betul. Nah masa sekarang adalah hasil positif
dari demokrasi sehingga pemerintah dapat tekanan dari rakyat,
dari legeslatif begitu ada tsunami.
Bila lokasi kita tergolong rawan bencana, sejauh mana
langkah antisipasinya?
Memang sejak 26 Desember 2004, tepatnya
setelah kejadian tsunami di Aceh, kita disadarkan akan penting-nya
membangun sistem peringatan dini. Bersama sejum-lah badan pemerintah
hal itu sudah kami lakukan. Kami sudah membangun sistem peringatan
dini dan sudah menjadi dokumen tsunami early warning system.
Bisa dijelaskan seperti apa dokumen tersebut?
Di dalam dokumen tsunami early warning system
itu, dapat dibagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama saya
kasih nama struktur, dan bagian kedua kultur. Pada bagian struktur,
di dalamnya termasuk infrastruktur, yaitu alat-alat yang digunakan
untuk pemantauan gempa dan perkiraan tsunami. Di sinilah dengan
alat-alat tersebut dilakukan pemantauan seismisitas, pengukuran
pasang surut, pemantauan deformasi, dan jaringan media untuk penyampaian
informasi. Di sini juga peralatan teknologi informasi berperan
besar. Sedang bagian kedua, kultur, adalah bagian bagaimana kesiapan
masyarakat dalam menerima informasi terjadinya bencana. Penguatan
kesiapan daerah dan penggalangan kerja sama internasional, juga
pengembangan kelembagaan, termasuk di dalamnya.
Bagaimana alur kerjanya?
Data yang dihasilkan oleh peralatan tersebut,
ditransmite menggunakan fasilitas yang ada. Bisa point to point,
lewat satelit atau berbagai fasilitas yang lain. Selanjutnya,
data yang diperoleh dari peralatan tersebut oleh pusat pengolahan
gempa digabungkan dengan pengetahuan para petugas mengenai bumi
lalu diproses sampai kita mampu memberitahukannya.
Artinya data tersebut sudah bisa diinformasikan?
Kalau ada data, sudah ada informasi. Jadi,
kita sudah tahu persis kapan terjadi gempa, dengan catatan sudah
terjadi gempa. Kalau belum kita nggak tahu. Informasi yang dimaksud
adalah waktu gempa, di mana tempatnya, berapa dalam episentrumnya,
berapa kekuatan gempa dalam skala richter. Bila digabungkan dengan
keadaan geologi setempat, bisa diketahui jenis gempanya. Apakah
benturan dua lempengan, apakah satu lempengan, naik berapa, turunnya
berapa, atau apakah ada yang amblas. Kalau yang terjadi satu naik
satu turun kemudian amblas maka kita langsung bilang akan terjadi
tsunami tanpa mengukur ada gejala tsunami apa tidak.
Terus informasi tersebut disosialisasikan?
Iya, berita tersebut bisa kita sampaikan
kepada masyarakat. Nah ini yang kita bilang dengan kultur. Di
sini penting sekali untuk diketahui bahwa berita disampaikan kepada
pihak terkait yang mempunyai otoritas. Sebut saja Satkorlak, Sarlak,
Pemda, polisi, atau tentara. Setelah mereka memahami, maka mereka
akan menyampaikannya kepada masyarakat. Selanjutnya dilakukan
pengungsian secara cepat (rapid evacuation). Struktur dan kultur
sama-sama berperan penting. Masyarakat siap tapi tidak diberitahu
tidak ada gunanya, kita beritahu dengan baik masyarakat tidak
siap tidak ada gunanya juga, dua-duanya harus dibangun secara
paralel.
Yang membuat dokumen ini siapa?
Kita. Ini yang disebut dengan grand scenario
tsunami early warning system. Ristek mendapat tugas dari pemerintah
menjadi ujung tombaknya. Jadi kami galang semua kekuatan, kemudian
kita keluar dengan dokumen tersebut. Sekarang itulah yang kita
gunakan.
Kapan mulainya?
Sudah mulai. (Kusmayanto menunjuk draft
grand scenario dan memaparkan jumlah peralatan, berapa banyak
yang diperlukan, tempatnya di mana saja, serta rencana percepatannya).
Jadi segera setelah 26 Desember 2004 kami langsung bergerak. Pada
Maret 2005 naskah sudah jadi dan 10 Agustus 2005 saat Hari Kebangkitan
Teknologi Nasional, dokumen grand scenario tsunami early warning
system kami serahkan ke Presiden SBY. Kemudian diadop masuk dalam
rencana APBN 2006 oleh instansi-instansi terkait. Ristek mengajukan
peralatan, BMG mengajukan peralatan, direalisasikan 2006. Bagusnya
grand scenario ini sudah menjadi pegangan pada saat mengajukan
RAPBN baik pada tahun 2006 maupun 2007. Program ini sesuai perintah
SBY-JK agar diselesaikan pada tahun 2008 dari usulan sebelumnya
yang harus selesai pada 2009, dengan total biaya Rp1,2 triliun.
Kita bangga tsunami early warning system ini dibangun berdasarkan
teknologi anak negeri sendiri. Komponen kita beli, integrasinya
oleh anak-anak negeri sendiri.
Sudah dicoba? Bagaimana hasilnya?
Sudah. Kasus kemarin, kami sukses. Hanya
dalam order kurang dari 10 menit, jadi antara 4 sampai 10 menit,
kami sudah bisa beritahukan informasi kepada semua orang, setidaknya
ada 400 orang yang sudah diberitahu. Di sini BMG sudah bisa memberitahu.
Saya satu dari 400 orang itu. Dalam hal ini kita sudah cukup kuat,
walaupun masih banyak kekurangannya. Dengan alat-alat yang kita
pasang sekarang kita sudah bisa kasih tahu. Cuma belum akurat.
Contoh Pangadaran kemarin, kita bilang 6,3 richter orang lain
bilangnya lebih besar. Bisa juga kita lebih besar dan orang lain
(USGS, JMA) lebih kecil. Kita tambah itu untuk menambah akurasi
kekuatan skala, lokasi, atau episentrum. Kalau waktu pastilah
kita bisa lihat jam.
Kelemahan dari kasus Pangadaran kemarin, dari BMG terdapat 400
orang yang menerima pesan via SMS padahal penerimaan SMS sendiri
ada rentang waktu beberapa menit. Makanya di sini operator perlu
berperan. Tapi namanya juga menggunakan fasilitas biasa, tetap
ada kendala. Dari sini, kami berfikir kenapa tidak menggunakan
point to point sehingga bisa memperpendek rentang waktu penerimaan
pesan. Karena waktu dari mulai mengetahui hingga menyebarluaskan
kepada masya-rakat tidak lebih dari 20 menit.
Selain SMS, ada cara yang paling efektif dan cepat untuk
memberitahukan masyarakat?
Akan kita ganti dengan sirene dan kita bisa
bekerja sama dengan provider yang memiliki BTS. Sebagai contoh,
Telkomsel saja punya 485 BTS di sepanjang pantai selatan Pulau
Jawa, tepatnya di daerah rawan gempa. Nah, kenapa tidak di tiang
BTS dipasang sirene. Setiap sirene dirancang punya akses code.
Begitu diketahui lokasi bencana segera bisa diketahui dan dipublikasikan.
Sudah dibicarakan dengan pihak Telkomsel?
Sudah. Saya sudah ngomong dengan Pak Kiskenda
(dirut Telkomsel, Red.). Prinsip mereka setuju.
Sejauh mana kerja sama dengan instansi lain?
Beberapa kesepakatan sudah kami capai. Dengan
BMG misalnya. Pertama hanya BMG yang mem-beritahukan ketika ada
ancaman bencana. Yang kedua BMG menjadi pusat kajian. Jadi semua
data baik dari LIPI, Bakosurtanal, maupun Lapan, dikirim ke BMG.
Berikutnya lembaga ini yang mem-proses. Boleh dibilang, hikmahnya
bencana ini adalah menyatukan kita sesama instansi untuk bersama-sama
mengantisipasi dan melakukan peringatan dini.
Bagaimana dengan kesiapan SDM jika grand scenario dijalankan?
Kalau SDM di perguruan tinggi, lembaga penelitian,
dan industri sudah sangat siap. Yang belum siap adalah kesungguhan
memberi kepercayaan kepada anak bangsa pembuat teknologi. Karena
selama ini seperti juga teknologi Hankam, kita sedikit-sedikit
impor. Belum ada “aku cinta produk Indonesia”. Pada
Desember 2006 nanti kita akan buat sendiri tiga buah buoy (pelampung).
Ini semua akan dikerjakan oleh anak negeri sendiri. Jadi dengan
teknologi anak negeri kita harus bisa mencegah tsunami.
