| |
LUTHFI
ANDI MUTTY, Bupati Luwu Utara
“Hanya
yang Menguasai TI yang Unggul”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Undangan
untuk menyambut Wakil Presiden Jusuf Kalla yang tengah bertandang
ke Makasar akhir April lalu, terpaksa tak bisa dipenuhi oleh Luthfi
Andi Mutty. Bupati Luwu Utara ini, punya alasan khusus sehingga
terpaksa harus mewakilkan kehadirannya. Rupanya, esok harinya,
pria kelahiran 1 September 1956 ini harus menghadiri undangan
pertemuan kelompok tani dalam acara temu usaha kakao. “Ini
lebih penting,” begitu alasannya.
Keputusan Luthfi –begitu ia biasa disapa— tak bisa
dilepaskan dari prinsipnya yang sudah ia tanamkan begitu dilantik
sebagai Bupati Luwu Utara pada 31 Desember 1999 lalu. “Sejak
awal saya instruksikan kepada para camat dan kepala desa bahwa
kalau pada waktu bersamaan ada undangan dari kelompok tani dan
undangan bupati, saya katakan mereka harus mendatangi undangan
kelompok tani, jangan mengikuti acara bupati.” Perintah
ini rupanya juga berlaku bagi dirinya. Apalagi, kini kabupaten
yang dimekarkan dari Kabupaten Luwu sejak 1999 ini, tengah bertekad
menjadi Kabupaten Kakao Terbaik Nasional 2010. Sebuah target yang
harus dibarengi kerja keras tentunya.
Lantas, bagaimana jebolan APDN tahun 1978 dan IIP tahun 1985 ini
menerapkan strategi untuk merealisasikan target tersebut? Berikut
nukilan wawancara Faizah Rozy dari majalah e-Indonesia dengan
mantan dosen IIP ini akhir April lalu di kantornya di Luwu Utara.
Selain menceritakan bagaimana kakao hendak dikembangkan, pria
yang sudah meluncurkan buku bertajuk Luthfi Mutty: Pionir Luwu
Utara serta buku Kemenangan Tanpa Janji, ini juga menuturkan bagaimana
pembangunan TIK hendak dijalankan di kabupaten yang belum memiliki
warnet ini.
Kebijakan
seperti apa yang Bapak terapkan untuk membangun Luwu Utara?
Kami bertumpu pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) terkait
dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Di sini ada tiga indikator
penting yakni tingkat pendidikan masyarakat, derajat kesehatan,
serta daya beli masyarakat yang berkaitan dengan pendapatan masyarakat
melalui sektor pertanian.
Ada pertimbangan tertentu mengapa
penekanan pada tiga bidang tadi?
Saya berpikir dan fakta menunjukkan bahwa kemajuan sebuah masyarakat
ditentukan oleh tingkat kecerdasaran masyarakatnya. Hanya saja,
tidak ada artinya SDM bagus, kalau sakit-sakitan, makanya kesehatan
juga harus dijaga. Nah target saya pada 2009, tidak ada satu desa
pun di Luwu Utara yang tidak mempunyai unit pelayanan dasar kesehatan
atau Puskesdes (Pusat Kesehatan Desa-Red). Artinya di setiap desa,
harus ada gedung kesehatan, tenaga medis, alat medis, serta obat.
Sejalan dengan itu, sejak 2006, kami melakukan revitalisasi KB
dan menjadikan Posyandu sebagai ujung tombak. Dan saya instruksikan
ke PKK, tiada hari tanpa kunjungan ke Posyandu. Bagaimanapun Posyandu
dapat dimanfaatkan sebagai early warning system untuk memantau
permasalahan masyarakat khususnya balita dan pasangan usia subur
serta lansia.
Mengenai pembangunan pendidikan?
Begini, ketika daerah ini baru terbentuk, hanya ada 3 SMA. Sekarang
sudah ada 15 SMA dan 2 SMK yang saat pembentukan wilayah tidak
ada. Target saya sampai 2008 ini, tidak ada lagi gedung sekolah
yang compang-camping. Lebih baik kami tidak membangun atau membeli
sesuatu daripada sekolah rusak. Begitu pula bila ada anak sekolah
tapi tidak ada daya tampung, lebih baik kami tidak membeli sesuatu.
Bagaimana
dengan program pertanian?
Ini berkaitan dengan peningkatan daya beli masyarakat. Karena
core competen Luwu Utara memiliki potensi besar di bidang ini.
Sebanyak 80 persen penduduknya bergerak di sektor pertanian. Kemudian
daya serap tenaga kerja masih sebagian besar di sektor ini. Nah,
apalagi bila sektor pertanian termasuk kakao ditangani dengan
lebih baik daya beli masyarakat juga akan meningkat.
Terkait kakao, seperti apa pengembangannya?
Tanaman kakao baru dikenal tahun 90-an. Di masa lalu, pernah booming
dan membuat masyarakat sejahtera. Melalui work shop building shared
vission, mission and value tahun lalu, telah dirumuskan visi,
misi, dan grand strategy kabupaten Luwu Utara 2008 – 2010.
Visi tersebut adalah Kabupaten Kakao Terbaik Nasional 2010. Pengertian
terbaik di sini adalah menghasilkan kakao yang dipermentasi karena
harganya lebih tinggi. Bila terwujud, dapat meningkatkan kesejahteraan
petani sekaligus menjadi produk unggulan bagi Luwu Utara dan Sulawesi
Selatan dengan mutu standar SNI.
Mengapa dipilih kakao?
Ada beberapa pertimbangan. Mulai dari aspek alam, agribisnis,
serta pengembangan. Selain itu tanaman kakao hampir menyentuh
semua lapisan masyarakat. Penduduk kami, di mana pun di sudut
wilayah ini, semua bisa menanam kakao dari lahan pekarangan sampai
lahan perkebunan. Mengacu data yang ada, terdapat areal kebun
kakao seluas 57 ribu hektar. Sayangnya kurang lebih 15 ribu sudah
tidak berproduksi.
Lantas bagaimana strategi untuk mencapai
visi operasional tersebut?
Strateginya beragam. Antara lain di bidang kelembagaan, telah
dibentuk posko yang kami beri nama Posko Germastakwa yakni Gerakan
Massal Peningkatan Kualitas Kakao hingga ke desa-desa. Bersamaan
dengan itu, dilakukan pula pembinaan intensif terhadap kelompok-kelompok
tani agar benar-benar dapat berfungsi sebagai wadah kerja sama,
kelas belajar dan sebagai unit ekonomi. Kami juga melakukan upaya
di bidang on farm dan off farm.
Seperti apa upaya di bidang on farm?
Di bidang on farm, untuk rehabilitasi tanaman dilakukan gerakan
massal sambung samping atau side grafting serta peremajaan dengan
pola sambung pucuk. Sementara itu, untuk mendukung program tersebut
telah diidentifikasi kebun masyarakat yang memiliki klonklon unggul
untuk ditetapkan sebagai sumber benih sambung samping dan sambung
pucuk. Di samping itu dilakukan pula SL sambung samping. Kami
juga telah melakukan ekspose di hadapan Direktur Jenderal Perkebunan
di Jakarta. Hasilnya, Luwu Utara ditetapkan sebagai pilot project
pengembangan kakao di Kawasan Timur Indonesia.
Bagaimana dengan off farm?
Saya telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan pimpinan BI
maupun kalangan perbankan baik di Makasar maupun Masamba yang
semuanya difasilitasi oleh BI Makasar. Apa yang saya lakukan adalah
demi mencari sumber bantuan modal yang berkaitan dengan kegiatan
on farm.
Lalu bagaimana dengan strategi pemasarannya?
Pada saat penandatanganan MoU dengan Dirjen Perkebunan di Jakarta,
saya mengikutkan beberapa orang ketua Kelompok Tani dengan maksud
menghubungkan mereka dengan PT Bumi Tangerang, salah-satu eksportir
kakao terbesar di Indonesia. Selain itu, akhir April lalu dilakukan
temu usaha kakao yang melibatkan multy stakeholder antara lain
dunia perbankan, para pakar kakao, para ekspotir, asosiasi, dan
lain-lain.
Hasilnya?
Dalam temu usaha tersebut telah ditandatangani MoU antara PT Armajaro
Group dengan 4 buah Koperasi Pertanian (Koptan). Di sini disepakati
untuk melakukan jual beli kakao permentasi. Apa yang kami lakukan
adalah untuk menyelamatkan petani dari cengkeraman para tengkulak
yang berlangsung selama ini.
Sebenarnya pasar kakao ke mana saja?
Untuk dalam negeri, pasti terbuka pasar yang luas. Mengacu data
Departemen Perindustrian, produktivitas kakao di Indonesia mengalami
penurunan 26% per tahun. Adapun pasar ke luar, bisa ke Malaysia.
Mengingat 2010 sudah dekat, apa target
tersebut bisa terealisasi?
Bisa terealisasi 10 persen saja sudah cukup. Setidaknya bagi saya
sudah ada starting point agar masyarakat bisa memperbaiki taraf
hidupnya.
Menurut Bapak, key success factor
untuk mencapai visi operasional apa?
Kelompok tani harus bagus. Di sini kelompok tani harus berfungsi
sebagai wadah kerja sama, kelas belajar, dan sebagai unit ekonomi.
Sebagai unit ekonomi, mereka adalah kumpulan orang yang mengelola
unit kegiatan yang sama dan harus bisa menyisihkan sebagian pendapatannya
sebagai modal kelompok sehingga bisa menjadi sarana simpan pinjam
antar anggota. Selanjutnya kelompok tani bisa menjadi Koperasi
Tani. Nantinya gabungan Koperasi Tani bisa menjadi pondasi bagi
berdirinya KUD.
Peran Pemda sendiri seperti apa?
Begitu dilantik sebagai bupati pada periode pertama, saya instruksikan
kepada para camat dan kepala desa bahwa kalau pada waktu bersamaan
ada undangan dari kelompok tani dan undangan bupati, saya katakan
mereka harus mendatangi undangan kelompok tani, jangan mengikuti
acara bupati. Dari awal, saya sudah tahu bahwa pertanian tidak
mungkin maju tanpa keberadaan kelompok tani. Dan komitmen ini
juga saya perlakukan untuk diri saya. Selain itu, saya instruksikan
kepada para dinas terkait untuk melakukan pembenahan kelompok.
Bulan Mei minggu pertama dengan difasilitasi BI, kami melakukan
pelatihan pendamping kelompok.
Apa potensi lainnya yang dimiliki
Luwu Utara?
Selain kakao, ada padi, buah-buahan, serta tambang. Sejak dulu,
Luwu Utara dikenal sebagai penghasil buahbuahan dan saya tidak
mau citra ini hilang terutama durian. Karena itu saya coba pertahankan
dengan melakukan peremajaan tanaman durian yang bermutu yakni
durian montong.
Bagaimana dengan peluang investor
untuk turut memaksimalkan potensi yang dimiliki Luwu Utara?
Sekarang sudah mulai gairah khususnya kakao. Apalagi sejak BI
Makasar turun tangan. Di BI terdapat satgas percepatan pembangunan
ekonomi daerah. Mereka melihat program kakao di Luwu Utara sebagai
sebuah program brilian yang langsung menyentuh kehidupan orang
banyak. Tanpa surat dan pemberitahuan dari saya, mereka yang ambil
inisiatif untuk datang ke daerah ini guna mempertemukan pimpinan
perbankan yang ada di Makasar. Bahkan mereka membawa pimpinan
perbankan di Makasar datang ke sini untuk membiayai program ini
mulai dari on farm sampai off farm. Kami harapkan kredit yang
diterima Koptan bisa digunakan untuk membeli produk mereka sendiri
sehingga mereka tidak terjebak lagi oleh tengkulak.
Terkait dengan pembangunan TI, bagaimana
kebijakannya?
Dalam era globalisasi adalah hal mustahil kita terlibat di dalamnya
tanpa menguasai dan mengaplikasikan TI. Karena itu, saya kira
yang harus dibangun terlebih dahulu adalah bagaimana menyakinkan
aparat bahwa TI sesuatu yang tidak mungkin diabaikan. Persoalan
yang dihadapi adalah banyak pejabat saya di sini gaptek. Jangankan
mau memahami internet, untuk mengoperasikan komputer secara sederhana
saja tidak tahu, tidak mengerti. Padahal dengan menguasai TI kita
bisa cepat menguasai informasi. Misalnya, saya tidak harus menunggu
koran yang tibanya sore. Pagi-pagi saya masuk kantor, saya langsung
buka internet, saya sudah bisa tahu koran yang terbit di Makasar
hari ini
Mengapa Bapak tidak tularkan kebiasaan
positif tersebut kepada anak buah?
Saya tidak tahu apakah mereka tidak tertarik atau malas belajar.
Ini penyakit birokrasi, lambat untuk berubah padahal orang yang
tidak berubah akan mati dimakan oleh perubahan. Tidak ada yang
pasti kecuali perubahan itu sendiri. Dan perubahan yang paling
cepat adalah TI.
Lengkapnya baca di
majalah....
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ke
atas l Kembali
ke e-daerah l Kembali
ke Edisi 25 |
|
|