Sosoknya
tegap, meski tidak terlalu tinggi. Penampilannya rapi dan malah
terkesan dandi. Lelaki itu, sebut saja Dandi, selalu hadir dalam
setiap seminar atau pun work-shop berbau TI. Ketika digelar seminar
“Single Identity Number” Oktober 2003, di Hotel Indonesia,
Jakarta, ia nampak hadir. Ketika itulah saya pertama kali mengenalnya.
Dengan tekun, ia menyimak presentasi pemakalah. Tak satu pun presentasi,
dari enam pembicara ketika itu, yang ia lewatkan. Apalagi seminar
yang dihadiri lebih kurang 700 orang itu selain mengetengahkan
beberapa orang menteri, juga menghadirkan pemakalah andal.
Ketika setahun kemudian, tepatnya 7 Oktober 2004, saya menghadiri
seminar nasional mengenai e-procurement di Hotel Le Meredien,
Jakarta, saya kembali bertemu dengan Dandi. Ia senang sekali menghadiri
seminar tersebut, karena menurutnya akan menambah pengetahuannya
seputar TI. Apalagi e-procurement bidang baru baginya, dan disebut-sebut
dapat menangkal korupsi. Bukan cuma itu, saya pun ketemu Dandi
lagi ketika digelar seminar nasional “E-Learning Summit”
yang diadakan di Shangrila Hotel, 23 Februari 2005 lalu. Seminar
yang menghadirkan pakar-pakar e-learning dan beberapa contoh kasus
itu, sangat menarik perhatian Dandi. Ini juga termasuk bidang
yang baru baginya. Ia malah berencana akan menularkan apa yang
dia dapat di seminar ini kepada rekan-rekan di daerahnya, agar
mereka tahu bagaimana e-learning dapat menghemat banyak anggaran
dan mempermudah proses belajar-mengajar.
Itulah Dandi, ia tidak hanya hadir di seminar-seminar TI tingkat
nasional, tetapi juga dalam pelatihan atau workshop kecil sekali
pun. Baginya, sepanjang topiknya menarik dan ia perlu mendapatkan
pengetahuan dari situ, ia akan datang menjambangi acara tersebut.
Padahal, asal tahu saja, Dandi tinggal di sebuah kota di Jawa
Tengah, sedang banyak seminar atau workshop yang diikutinya umumnya
diadakan di Jakarta.Tapi ketika saya
bertemu Dandi pertengahan bulan lalu, lagi-lagi dalam sebuah acara
komunitas TI, ia tampak tidak se-happy biasanya. “Pusing
saya Mas,” katanya mengeluh. “Kenapa?” tanya
saya. Ia pun bercerita bahwa pengajuan anggaran untuk pengembangan
(investasi) TI di kantornya ditolak. Padahal ia sudah membuat
program pengembangan e-government sedemikian rupa. Segala “ilmu”
yang ia peroleh dari berbagai seminar dan workshop telah coba
ia tuangkan dalam sebuah program rencana kerja. Namun,
hasilnya... ia terjegal pada satu hal. Ternyata dalam visi dan
misi pemerintahan mereka tak tertera kegiatan yang menyangkut
bidang teknologi informasi. Sehingga program kerja yang telah
ia susun berkenaan dengan pengembangan dan implementasi TI tidak
bisa diterima hanya karena alasan tersebut.
Dandi kemudian menyarankan, dalam melaksanakan kegiatan TI kita
harus berhati-hati. Maklumlah investasi yang diperlukan untuk
kegiatan TI tidak sedikit. Selain
harus ada tujuan yang jelas dalam penggunaan TI dan mendapatkan
dukungan dari berbagai pihak khususnya dukungan (good will) dari
pimpinan daerah dan DPRD untuk penganggarannya, juga harus sesuai
dengan visi dan misi pemerintah daerah yang bersangkutan. Jadi
mulai sekarang, sebelum Anda melangkah lebih jauh, periksalah
dulu apakah visi dan misi tempat Anda bekerja sudah memasukkan
kegiatan bidang teknologi informasi sebagai salah-satu sasaran
yang akan dicapai dalam pembangunan daerah. Setelah itu ada, bukan
berarti persoalan selesai. Perjalanan masih panjang. Anda harus
meyakinkan pimpinan bahwa investasi yang akan ditanamkan untuk
keperluan TI tidaklah bisa dilihat hasilnya seperti membangun
sebuah rumah. Apalagi ukuran untuk menilai keberhasilan investasi
TI sampai saat ini belum ada. Nah, Anda memang harus bekerja keras,
ujar Dandi.
(AZ)