Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

Editorial Majalah e-Indonesia Vol. I / No. 4 / Edisi Agustus 2005


Investasi TI

 

Sosoknya tegap, meski tidak terlalu tinggi. Penampilannya rapi dan malah terkesan dandi. Lelaki itu, sebut saja Dandi, selalu hadir dalam setiap seminar atau pun work-shop berbau TI. Ketika digelar seminar “Single Identity Number” Oktober 2003, di Hotel Indonesia, Jakarta, ia nampak hadir. Ketika itulah saya pertama kali mengenalnya. Dengan tekun, ia menyimak presentasi pemakalah. Tak satu pun presentasi, dari enam pembicara ketika itu, yang ia lewatkan. Apalagi seminar yang dihadiri lebih kurang 700 orang itu selain mengetengahkan beberapa orang menteri, juga menghadirkan pemakalah andal.

Ketika setahun kemudian, tepatnya 7 Oktober 2004, saya menghadiri seminar nasional mengenai e-procurement di Hotel Le Meredien, Jakarta, saya kembali bertemu dengan Dandi. Ia senang sekali menghadiri seminar tersebut, karena menurutnya akan menambah pengetahuannya seputar TI. Apalagi e-procurement bidang baru baginya, dan disebut-sebut dapat menangkal korupsi. Bukan cuma itu, saya pun ketemu Dandi lagi ketika digelar seminar nasional “E-Learning Summit” yang diadakan di Shangrila Hotel, 23 Februari 2005 lalu. Seminar yang menghadirkan pakar-pakar e-learning dan beberapa contoh kasus itu, sangat menarik perhatian Dandi. Ini juga termasuk bidang yang baru baginya. Ia malah berencana akan menularkan apa yang dia dapat di seminar ini kepada rekan-rekan di daerahnya, agar mereka tahu bagaimana e-learning dapat menghemat banyak anggaran dan mempermudah proses belajar-mengajar.


Itulah Dandi, ia tidak hanya hadir di seminar-seminar TI tingkat nasional, tetapi juga dalam pelatihan atau workshop kecil sekali pun. Baginya, sepanjang topiknya menarik dan ia perlu mendapatkan pengetahuan dari situ, ia akan datang menjambangi acara tersebut. Padahal, asal tahu saja, Dandi tinggal di sebuah kota di Jawa Tengah, sedang banyak seminar atau workshop yang diikutinya umumnya diadakan di Jakarta.
Tapi ketika saya bertemu Dandi pertengahan bulan lalu, lagi-lagi dalam sebuah acara komunitas TI, ia tampak tidak se-happy biasanya. “Pusing saya Mas,” katanya mengeluh. “Kenapa?” tanya saya. Ia pun bercerita bahwa pengajuan anggaran untuk pengembangan (investasi) TI di kantornya ditolak. Padahal ia sudah membuat program pengembangan e-government sedemikian rupa. Segala “ilmu” yang ia peroleh dari berbagai seminar dan workshop telah coba ia tuangkan dalam sebuah program rencana kerja. Namun, hasilnya... ia terjegal pada satu hal. Ternyata dalam visi dan misi pemerintahan mereka tak tertera kegiatan yang menyangkut bidang teknologi informasi. Sehingga program kerja yang telah ia susun berkenaan dengan pengembangan dan implementasi TI tidak bisa diterima hanya karena alasan tersebut.

Dandi kemudian menyarankan, dalam melaksanakan kegiatan TI kita harus berhati-hati. Maklumlah investasi yang diperlukan untuk kegiatan TI tidak sedikit.
Selain harus ada tujuan yang jelas dalam penggunaan TI dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak khususnya dukungan (good will) dari pimpinan daerah dan DPRD untuk penganggarannya, juga harus sesuai dengan visi dan misi pemerintah daerah yang bersangkutan. Jadi mulai sekarang, sebelum Anda melangkah lebih jauh, periksalah dulu apakah visi dan misi tempat Anda bekerja sudah memasukkan kegiatan bidang teknologi informasi sebagai salah-satu sasaran yang akan dicapai dalam pembangunan daerah. Setelah itu ada, bukan berarti persoalan selesai. Perjalanan masih panjang. Anda harus meyakinkan pimpinan bahwa investasi yang akan ditanamkan untuk keperluan TI tidaklah bisa dilihat hasilnya seperti membangun sebuah rumah. Apalagi ukuran untuk menilai keberhasilan investasi TI sampai saat ini belum ada. Nah, Anda memang harus bekerja keras, ujar Dandi. (AZ)

 


KEMBALI    l    KE ATAS

Copyright © www.majalaheindonesia.com 2006