Dua
minggu sebelumnya saya sudah melontarkan permohonan untuk mewawan-carainya.
Tapi karena sedang sibuk, ia minta agar bisa bertemu saja di Jakarta.
“Minggu depan saya ada di Jakarta, kita ketemu saja di sana.
Tapi sebelumnya Anda telepon saya dulu ya?” begitu katanya
waktu itu. Oleh sebab itulah, malam ini --dua minggu kemudian--
saya meneleponnya. Saya utarakan maksud saya untuk mewawancarainya,
sekadar mengingatkan. Maklum dia super sibuk. Tapi belum lagi
pembicaraan kami melesat jauh, ia sudah berusaha mengakhirinya.
“Maaf ya, saya kira saya tak pantas untuk diangkat dalam
majalah Anda. Lain kali saja kita ngobrol-ngobrol,” katanya
menutup pembicaraan. Bagi saya kejadian itu agak aneh. Dua minggu
sebelumnya ia telah menyatakan kesediaan untuk suatu wawancara
tentang perjalanan karirnya dalam memanfaatkan TI di instansi
yang ia pimpin.
Saya mengenal Bambang Susanto Priohadi, yang sampai kini masih
menjabat Sekda Provinsi DIY, ketika meliput acara pameran dan
seminar “Peluang Investasi dan Produk Unggulan Indonesia”
yang berlangsung di Yogyakarta 1 sampai 4 September tahun lalu.
Ketika itu ia sempat memukau peserta seminar dengan makalah yang
dibawakannya. Ia bercerita banyak bagaimana mengelola instansinya
agar dapat melaju dalam pembangunan. Apalagi daerah yang “dikelolanya”
bisa dikategorikan daerah miskin. Maksudnya daerah yang tidak
memiliki hasil bumi yang menjadi andalan untuk PAD. Karena itu
mereka harus pintar-pintar mencari terobosan agar bisa mendapatkan
dana untuk melakukan kegiatan pembangunan.
Yang membuat peserta seminar berdecak kagum ketika itu adalah
ketika dengan percaya diri Bambang memaparkan programnya yang
sudah dikelola dengan memanfaatkan TI. Apalagi, cerita Bambang,
Sultan sudah bertekad untuk menjadikan Yogyakarta sebagai kota
cyber province. Bulan September saya menyaksikan lagi
kiprahnya di depan peserta seminar yang diadakan di Hotel Intercontinental
Midplaza Jakarta. Di acara yang diadakan dalam rangka penyerahan
award e-government oleh sebuah majalah ibukota itu, lagi-lagi
ia memukau banyak orang. Bagaimana ia telah memanfaatkan TI untuk
memajukan pembangunan di daerahnya menjadi topik yang menarik
dibahas ketika itu. Apalagi, daerahnya mendapat predikat sebagai
pemenang kedua untuk katagori tingkat provinsi sebagai penerap
e-government terbaik. Bukan cuma itu, mereka juga meraih penghargaan
prestisius dengan menyabet special achievement leadership
yang diberikan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X karena kepeduliannya
kepada TI. Hadiah diterima langsung oleh Sultan yang malam itu
terlihat sumringah. Maka lengkap sudah kebahagian para petinggi
Yogyakarta ketika itu. Bayangkan Pemkot mereka pun ikut menyabet
sebagai juara pertama tingkat kota penerap TI terbaik. Luar biasa.
Tak lama setelah telepon ditutup, pesawat televisi memberitakan
tentang penyelewengan proyek pembangunan jaringan telepon nirkabel
berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) di Yogya.
Menurut berita tersebut Sultan diduga ikut terlibat dan kini tengah
diperiksa. Di akhir tayangan, saya mendengar komentar Sultan yang
mengatakan bahwa ia merasa dikhianati oleh Sekdanya. Terus terang,
saya sangat terkejut mendengar komentar Sultan tersebut. Bagaimana
mungkin Sekda mengkhianati Sultan-nya? Padahal yang tampak dari
luar adalah suatu hubungan yang sangat harmonis antara keduanya.
Bagaimana sebuah proyek bisa berjalan mulus di sana, dan mendapatkan
pengakuan dari lembaga independen sebagai penerap TI terbaik,
ternyata ada ketidakharmonisan antara leader dan tangan
kanannya? Sampai saat ini kasus tersebut masih bergulir dan masih
dalam pemeriksanaan Kejaksaan Tinggi DIY.
Namun, tanpa bermaksud mencampuri masalah penyelewengan dana tersebut,
saya cuma bertanya dalam hati: sudahkah IT Project Management
diterapkan dalam pembangunan TI atau e-government di Indonesia?
Kalau saja dalam kasus proyek CDMA Yogya IT Project Management
sudah diterapkan, pasti kasus penyelewengan tersebut dapat terdeteksi
dan tidak akan terjadi. Sebab, salah-satu keuntungan menggunakan
manajemen proyek adalah kontrol terhadap keuangan dan sumber daya
manusia akan berjalan lebih baik. Kalau itu sudah dipakai, Pak
Bambang tidak perlu repot menjelaskan kepada Sultan ke mana dana
mengalir, apalagi suatu proyek dapat berjalan-- lagi-lagi menurut
pakem IT Project Management-- tentu saja jika mendapat dukungan
penuh dari sang leader. (AZ)