Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

Editorial Majalah e-Indonesia Vol. I / No. 9 / Edisi Februari 2006


IT Project Management

 

Dua minggu sebelumnya saya sudah melontarkan permohonan untuk mewawan-carainya. Tapi karena sedang sibuk, ia minta agar bisa bertemu saja di Jakarta. “Minggu depan saya ada di Jakarta, kita ketemu saja di sana. Tapi sebelumnya Anda telepon saya dulu ya?” begitu katanya waktu itu. Oleh sebab itulah, malam ini --dua minggu kemudian-- saya meneleponnya. Saya utarakan maksud saya untuk mewawancarainya, sekadar mengingatkan. Maklum dia super sibuk. Tapi belum lagi pembicaraan kami melesat jauh, ia sudah berusaha mengakhirinya. “Maaf ya, saya kira saya tak pantas untuk diangkat dalam majalah Anda. Lain kali saja kita ngobrol-ngobrol,” katanya menutup pembicaraan. Bagi saya kejadian itu agak aneh. Dua minggu sebelumnya ia telah menyatakan kesediaan untuk suatu wawancara tentang perjalanan karirnya dalam memanfaatkan TI di instansi yang ia pimpin.

Saya mengenal Bambang Susanto Priohadi, yang sampai kini masih menjabat Sekda Provinsi DIY, ketika meliput acara pameran dan seminar “Peluang Investasi dan Produk Unggulan Indonesia” yang berlangsung di Yogyakarta 1 sampai 4 September tahun lalu. Ketika itu ia sempat memukau peserta seminar dengan makalah yang dibawakannya. Ia bercerita banyak bagaimana mengelola instansinya agar dapat melaju dalam pembangunan. Apalagi daerah yang “dikelolanya” bisa dikategorikan daerah miskin. Maksudnya daerah yang tidak memiliki hasil bumi yang menjadi andalan untuk PAD. Karena itu mereka harus pintar-pintar mencari terobosan agar bisa mendapatkan dana untuk melakukan kegiatan pembangunan.

Yang membuat peserta seminar berdecak kagum ketika itu adalah ketika dengan percaya diri Bambang memaparkan programnya yang sudah dikelola dengan memanfaatkan TI. Apalagi, cerita Bambang, Sultan sudah bertekad untuk menjadikan Yogyakarta sebagai kota cyber province. Bulan September saya menyaksikan lagi kiprahnya di depan peserta seminar yang diadakan di Hotel Intercontinental Midplaza Jakarta. Di acara yang diadakan dalam rangka penyerahan award e-government oleh sebuah majalah ibukota itu, lagi-lagi ia memukau banyak orang. Bagaimana ia telah memanfaatkan TI untuk memajukan pembangunan di daerahnya menjadi topik yang menarik dibahas ketika itu. Apalagi, daerahnya mendapat predikat sebagai pemenang kedua untuk katagori tingkat provinsi sebagai penerap e-government terbaik. Bukan cuma itu, mereka juga meraih penghargaan prestisius dengan menyabet special achievement leadership yang diberikan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X karena kepeduliannya kepada TI. Hadiah diterima langsung oleh Sultan yang malam itu terlihat sumringah. Maka lengkap sudah kebahagian para petinggi Yogyakarta ketika itu. Bayangkan Pemkot mereka pun ikut menyabet sebagai juara pertama tingkat kota penerap TI terbaik. Luar biasa.

Tak lama setelah telepon ditutup, pesawat televisi memberitakan tentang penyelewengan proyek pembangunan jaringan telepon nirkabel berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) di Yogya. Menurut berita tersebut Sultan diduga ikut terlibat dan kini tengah diperiksa. Di akhir tayangan, saya mendengar komentar Sultan yang mengatakan bahwa ia merasa dikhianati oleh Sekdanya. Terus terang, saya sangat terkejut mendengar komentar Sultan tersebut. Bagaimana mungkin Sekda mengkhianati Sultan-nya? Padahal yang tampak dari luar adalah suatu hubungan yang sangat harmonis antara keduanya. Bagaimana sebuah proyek bisa berjalan mulus di sana, dan mendapatkan pengakuan dari lembaga independen sebagai penerap TI terbaik, ternyata ada ketidakharmonisan antara leader dan tangan kanannya? Sampai saat ini kasus tersebut masih bergulir dan masih dalam pemeriksanaan Kejaksaan Tinggi DIY.

Namun, tanpa bermaksud mencampuri masalah penyelewengan dana tersebut, saya cuma bertanya dalam hati: sudahkah IT Project Management diterapkan dalam pembangunan TI atau e-government di Indonesia? Kalau saja dalam kasus proyek CDMA Yogya IT Project Management sudah diterapkan, pasti kasus penyelewengan tersebut dapat terdeteksi dan tidak akan terjadi. Sebab, salah-satu keuntungan menggunakan manajemen proyek adalah kontrol terhadap keuangan dan sumber daya manusia akan berjalan lebih baik. Kalau itu sudah dipakai, Pak Bambang tidak perlu repot menjelaskan kepada Sultan ke mana dana mengalir, apalagi suatu proyek dapat berjalan-- lagi-lagi menurut pakem IT Project Management-- tentu saja jika mendapat dukungan penuh dari sang leader.
(AZ)

 


KEMBALI    l    KE ATAS

Copyright © www.majalaheindonesia.com 2006