Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

Editorial Majalah e-Indonesia Vol. I / No. 2 / Edisi Juni 2005


IT Governance

 
Lagi itu suasana teduh dengan udara yang sejuk terasa nyaman di Taman Kyai Langgeng. Sebentar lagi acara peresmian www.desabuku.com akan dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah, Mardianto. Saya bergabung dengan undangan yang hadir di sana atas undangan seorang rekan di Magelang. Sayup-sayup tiba-tiba saya mendengar pembicaraan dua orang di belakang saya. Mungkin saya tidak akan tertarik dengan pembicaraan mereka, sampai saya mendengar mereka bicara soal pelayanan publik. Teman yang satu bercerita bahwa di kantornya sekarang sedang digalakkan pelayanan online. Ini berkaitan dengan otonomi daerah yang mewajibkan pemda meningkatkan pendapatan daerah masing-masing. Saya harus bisa komputer sekarang, katanya sambil tertawa kecil. Tapi, ceritanya lagi, yang hebat Pemda di sebelah Timur, mereka sudah bisa memproses KTP dalam lima menit. Mendengar obrolan itu, saya jadi tertarik. Saya pun akhirnya ikut nimbrug obrolan mereka.

Hari itu saya pulang dari Malang dengan membawa dua berita menarik dan membesarkan hati. Pertama, diresmikannya penggunaan website www. desa-buku.com, yang memperlihatkan bagaimana upaya Pemda dan masyarakat pencinta buku untuk memberikan pelayanan terbaik dalam meningkat-kan minat baca masyarakat. Dengan adanya website ini, diharapkan publik yang berminat memiliki buku-buku baru terbitan Ikapi, bisa membelinya secara online lewat internet.

Kedua, saya melihat dan merasakan sendiri kenyataan di lapangan bahwa e-government sudah merasuk ke sendi-sendi paling bawah dari suatu tata pemerintahan. Semakin hari semakin banyak yang membicarakannya, tak terkecuali dua orang pegawai Pemda tingkat II di Jawa Tengah itu. Tentu saja ini menggembicarakan. Di beberapa daerah saat ini memang tengah berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Terlepas apakah tujuan mereka karena ingin meningkatkan pendapatan daerah, namun usaha ke arah pelayanan yang baik patut kita hargai. Mereka ramai-ramai memanfaatkan TI untuk mendukung pekerjaan mereka. Di daerah Jawa Timur beberapa daerah seperti Malang, Madiun, Sidoardjo, Jember, sudah memberikan pelayanan prima, begitu mereka menyebutnya. Itu semua dilakukan secara online. Untuk menjaga keberlanjutan pelayanan, mereka malah berani meng-ISO-kannya. Itu artinya mereka harus konsisten secara terus-menerus terhadap pelayanan yang mereka berikan.

Namun demikian, usaha-usaha yang telah dilakukan itu, tampaknya masih atas inisiatif yang berjalan secara sendiri-sendiri dan tidak saling berkoordinasi. Pengalaman yang terjadi terhadap kasus TKW kita yang disandera di Arab beberapa waktu yang lalu memperlihatkan kelemahan itu. Bagaimana mungkin bisa terjadi seorang warga negara kita tidak diketahui dengan pasti identitasnya ketika yang bersangkutan bekerja di luar negeri. Jika database di Kependudukan, Imigrasi, dan Departemen Luar Negeri ter-connecting dengan baik, tentu data TKW tersebut gampang dilacak.

Meski cita-cita untuk saling connecting data antarinstansi tampaknya masih memakan waktu lama, namun usaha-usaha ke arah sana hendaknya sudah mesti kita mulai dari sekarang. Gerak langkah harus disatukan pada tujuan yang sama. Sebab pembangunan secara sendiri-sendiri jelas akan sangat tidak efisien, dan menimbulkan permasalahan di kemudian hari untuk integrasi dan interoperabilitasnya. Oleh sebab itulah diperlukan suatu tata kelola informasi dan komunikasi (IT Governance) agar kita memiliki perencanaan dan pengendalian yang baik dalam pembangunan proyek-proyek TI. Peran Depkominfo untuk memberikan arahan yang benar terhadap penerapan e-government kita, tentu sangat diperlukan.
(AZ)
 


KEMBALI    l    KE ATAS

Copyright © www.majalaheindonesia.com 2006