Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

Editorial Majalah e-Indonesia Vol. I / No. 12/ Edisi Juni 2006


Change Management

 

Change management. Tidak banyak orang yang mengerti pentingnya dua kata ini, utamanya dalam penerapan TI. Ketika suatu organisasi memutuskan untuk berinvestasi TI, dua kata ini tak masuk dalam hitungan yang mesti diperhatikan. Yang terbayangkan dalam benak pengelola Sistem Informasi adalah membeli alat untuk kebutuhan pekerjaan, latih SDM yang ada, selesai.
Tapi ketika dalam pelaksanaannya nanti terjadi beberapa kendala, barulah mereka sadar bahwa sebelum berinvestasi, mereka harus mempertimbangkan juga mengenai perubahan paradigma bagi tenaga SDM yang ada dan masya-rakat yang akan memakai dan menarik manfaat dari teknologi tersebut.

Apa yang dialami Rauf membuktikan hal itu. Rauf yang sehari-hari mengepalai badan informasi di suatu departemen merasakan sekali bagaimana susahnya mengubah kebiasaan rekan-rekan sekantornya. Ia sudah lama meminta agar bahan-bahan yang akan dimuat di website dikirim via email dan sudah dalam keadaan diketik komputer. Sehingga stafnya tinggal memasukkan bahan tersebut ke dalam website. Tapi apa yang terjadi? Setiap hari mereka datang ke kamarnya dengan membawa bahan hardcopy. Padahal jarak antara dinas yang satu dengan dinas yang lain dipisahkan oleh gedung yang berbeda. Mereka lebih rela berjalan kaki, daripada mengirim bahan lewat email.

Itu tentu saja kasus sederhana. Tapi setidaknya harus menjadi perhatian Rauf karena jika dibiarkan terus, bisa menghambat pekerjaan dan bahkan mubazir karena pengantaran bahan tersebut tentu saja memakan waktu, belum lagi mereka akan mengobrol jika bertemu dengan rekannya di perjalanan.

Tapi ada juga kisah menarik, yang justru terjadi sebaliknya. Jika pada kasus Rauf, harus terjadi perubahan pola kerja pada tahap bawah, sebaliknya yang terjadi di suatu kabupaten di selatan pulau Sumatera. Di sini seorang bupati harus segera mengambil sikap dan bersiap menghadapi segala perubahan yang terjadi akibat masuknya teknologi informasi ke daerah ini. Kabupaten yang tak memiliki fasilitas telekomunikasi itu, sudah dimasuki fasilitas CDMA berkat bantuan grand dari pemerintah luar negeri kepada beberapa sekolah di sana. Sejak saat itu, sang bupati mesti siap berubah menerima kenyataan baru yang dia hadapi. Kinerjanya kini dengan mudah disorot masyarakat. Setiap hari ada saja kritik dari masyarakat yang dikirim baik via website maupun via sms. Yang membuat sang bupati mengurut dada, sms tersebut dikirim juga tembusannya ke gubernur, malah ada yang dikirim ke SBY. “Saya sekarang harus siap-siap menerima segala macam kritik dari masyarakat. Malah anak-anak sekolah sekarang dengan mudahnya mengirim surat ke gubernur mengeluhkan pelayanan yang buruk lewat website. Saya cuma menerima tembusannya,” kata sang bupati. Meski ia cuma bisa geleng-geleng kepala, namun ia beserta aparatnya bertekad untuk berubah mengikuti perkembangan teknologi. Ini artinya ia siap memberikan pelayanan yang baik kepada rakyatnya.

Sang bupati telah dipaksa oleh teknologi untuk berubah. Entitas eksternal yang memaksanya untuk menerima kenyataan itu. Tidak ada pilihan lain bagi bupati dan aparatnya kecuali harus menerima kenyataan tersebut. Ia tak bisa menolaknya, karena jika tidak akan disingkirkan oleh keadaan. Malah ia harus berlomba dengan masyarakatnya untuk lebih tahu banyak tentang teknologi informasi. Bagaimana mungkin misalnya, sebagai abdi masyarakat yang harus memberi pelayanan, ia ketinggalan informasi dan pengetahuan dari yang akan dilayani.

Teknologi --termasuk teknologi informasi dan komunikasi-- memang telah membuat banyak perubahan. Namun, menurut Wahyudi Kumorotomo, dosen pada Magister Administrasi Publik, UGM, “aplikasi TI dalam organisasi publik hanya akan berubah bila manusia yang menjadi pemasok data sekaligus pemakai data bersedia untuk berubah dan memiliki sikap positif terhadap pemakaian TI.” Dua kasus di atas memperlihatkan bahwa perubahan itu memang harus berlangsung, baik itu melalui level bawah maupun pada level atas, dalam hal ini leader. Masalahnya memang, siapkah kita untuk berubah?
(AZ)

 


KEMBALI    l    KE ATAS

Copyright © www.majalaheindonesia.com 2006