Setelah
memarkir mobilnya lelaki separo baya itu memasuki ruang bercat
krem. Ia menenteng map berwarna merah. Sepuluh menit kemudian
ia keluar lagi dengan senyum sumringah. Urusannya sudah selesai,
dan ia kembali ke mo-bilnya, untuk kemudian kembali ke tujuan.
Tahukah Anda siapa lelaki tadi? Ia seorang pengusaha mobil cukup
bonafid di Sidoarjo. Apa yang ia lakukan? Ternyata ia baru saja
mengurus beberapa STNK mobil yang dijualnya.
Itulah dampak pelayanan publik yang baik bagi masyarakat Sidoarjo
saat ini. Seorang pengusaha sekelas lelaki tadi merasa tak perlu
menyuruh orang lain untuk mengurus STNK mobil yang akan dijualnya.
Cukup ia pergi sendiri, dan sepuluh menit kemudian pekerjaan yang
diurusnya sudah kelar. Padahal sebelumnya ia menyuruh orang untuk
mengurus semua itu, dan mengeluarkan berbagai biaya siluman yang
begitu banyak. Setelah membuktikan sendiri bahwa mengurus sendiri
tidak berbelit-belit dan bisa selesai cepat, ia pun mengurusnya
sendiri.
“Begitu wajib pajak menyerahkan
berkas-berkas dengan lengkap untuk memperpanjang STNK ke petugas,
maka akan langsung online dengan bagian plat nomor cetak. Setelah
selesai membayar, pemohon bisa mengambil plat nomor dan STNK sekaligus,”
begitu cerita H.I.G. Ng. Indra Setiabudi Ranuh, kepala UPT Dinas
Pendapatan Provinsi Jawa Tengah, Sidoarjo, mengenai terobosan
yang ia lakukan.
Inovasi yang dilakukan Indra tersebut patut diacungi jempol. Memang
saat ini ada beberapa daerah yang dengan inisiatif sendiri mencoba
memberikan pelayanan terbaik buat warganya. Motivasi di balik
itu bermacam-macam, ada yang karena mengejar PAD, ada juga yang
memang ingin memberikan pelayanan yang baik pada warganya. Apa
pun motivasi di balik itu semua, seharusnya pelayanan serba cepat,
transparan, dan mudah yang merupakan bagian dari implementasi
e-government itu berlangsung bukan cuma di Jawa Timur, khususnya
Sidoarjo, tapi di banyak daerah lain di republik ini. Yang menjadi
pertanyaan mengapa hal itu belum banyak terjadi?
Bila dibedah, memang banyak faktor penyebab
belum mulusnya implemetansi e-government. Mulai dari komitmen
leader yang kurang, minimnya SDM TI baik dari segi jumlah
maupun pengetahuannya, dukungan pendanaan yang masih cekak, koordinasi
antara instansi pemerintah cenderung lemah dan ego sektoral hingga
belum tersebarnya infrastruktur TI secara merata. Berbagai kendala
itu, tentu harus dicari solusi. Di tengah upaya mencari kendala
itu, tiba-tiba terbersit ide bagaimana bila e-government di-outsource
saja? Setidaknya, kerja sama antara pemerintah atau pemerintah
daerah, dengan vendor TI dan kalangan akademisi bisa dijadikan
salah-satu model.
Ini tentu bukan mengada-ada. Jika melihat kondisi obyektif sekarang,
rasanya mustahil jika kita menaruh harapan kepada pemerintah untuk
melakukan peran itu sepenuhnya. Selain masalah dana, masalah SDM
tentu saja menjadi kendala tersendiri. Sekarang, bagaimana bila
pihak pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta, dan akademisi
mewujudkan implementasi e-government di Indonesia seutuhnya? Tentu
ini bukan pekerjaan mudah. Perlu aturan main yang jelas. Namun
jika itu terlaksana, benefit yang diperoleh bukan saja tumbuhnya
pelayanan publik yang baik, tapi juga dapat memberdayakan industri
teknologi informasi swasta di Indonesia. Lebih dari itu, banyak
tenaga kerja kita juga yang akan terserap ke sana. Sehingga ini
tentu saja sekaligus mengurangi tingkat peng-angguran. Kalau sudah
jelas manfaatnya, apalagi yang ditunggu? (AZ)