Open
Source Untuk Dunia Pendidikan
Sun
Microsystems Indonesia bekerja sama dengan De-partemen Pendidikan
Nasional (Depdiknas) meningkat-kan penggunaan open source melalui
pengembangan in-formation and communication technology (ICT) center.
Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia
agar memiliki nilai tambah yang kompetitif yang sesuai dengan
perkembangan dan kebutuhan in-dustri teknologi informasi.
Dalam kerja sama ini,
Sun Microsystems Indonesia memberikan dukungan untuk pengembangan
ICT Center khususnya dalam hal transfer teknologi berbasis open
source, pelatihan bagi instruktur dan fasilitator, pengembangan
material pelatihan berstandard global yang berbasis web, serta
tutorial base sekaligus juga mendukung pengembangan infra-struktur
ICT Center berbasis open source di Indonesia. ICT Center merupakan
pusat pengem-bangan teknologi sistem informasi dan komunikasi
yang bertujuan untuk pelatihan, inkubasi, penelitian, dan pengkajian
teknologi di wilayah ICT Center itu berada.
Sun Microsystems menyerahkan
donasi dalam bentuk dukungan fasilitas open source kepada SMKN
1 Surabaya dan Politeknik Negeri Malang sebagai wujud dukungan
SUN yang berkelanjutan terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia.
Kerja sama itu ditandai dengan penyerahan sertifikat donasi dukungan
fasilitas open source secara simbolik oleh T. Mohan Doss, Regional
Director Education and Research Sun Microsystems Asia South, kepada
perwakilan Depdiknas yang disaksikan Kepala SMKN 1 Surabaya dan
Direktur Politeknik Negeri Malang sebagai perwakilan dari kedua
institusi pendidikan yang memperoleh donasi dalam program peningkatan
penggunaan open source di Indonesia.
Melalui donasi itu,
SMKN 1 Surabaya dan Politeknik Malang akan tergabung dalam SUN
Academic Initiative (SAI) yang merupakan komitmen SUN bagi industri
pendidikan. SAI adalah sebuah program yang didesain untuk menciptakan
kolaborasi antara SUN dengan institusi pendidikan di seluruh dunia.
Pelatihan dan kursus dalam program ini memperkenalkan teknologi
SUN Micro-systems kepada para peserta didik agar siap dengan sertifikasi
maupun keahlian yang dibutuhkan di dunia kerja.
(Ardi Winangun)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
State of IT Security 2006
Dengan
mengangkat isuisu keamanan di sektor TI, INDOCISC Network dan
PT Visi Trilogi menyelengga-rakan “State of IT Security
2006” pada awal Agustus lalu di salah-satu room hotel berbintang
di Jakarta. Sebagai pemberi materi diskusi, dihadirkan beberapa
praktisi dan pengamat TI terkemuka, seperti Budi Rahardjo yang
membahas beberapa isu keamanan sistem TI ditinjau dari regulatory
compliance, disaster recovery, identity theft, virus, dan open
source.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi dari Andika Triwidada
yang membawakan tema “10 Domains” yang membahas confidentiality,
integrity, dan availability sebuah sistem, Betha Siddik dengan
sesi “Appli-cation, Software, and Database Security”,
dan “IT Protection” yang dipaparkan oleh Yan Andrian-syah.
Disimpulkan oleh Budi
Rahardjo dalam materi diskusi yang dibawakannya, bahwa secara
umum status keamanan TI di Indonesia sudah membaik. Namun bukan
berarti masalah selesai begitu saja. “Dalam hal ini akan
selalu muncul masalah baru. Untuk itu awarness dan skill dalam
bidang security sangat dibutuhkan dengan diadakannya berbagai
pelatihan di bidang ini,” ujarnya.
(Chandra
Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Microsoft
Luncurkan Visual Studio TFS
Dalam
Software Architect Forum (SAF) yang digelar pada 14 Juli lalu
di Windows Room, Microsoft Indonesia merilis Visual Studio Team
Foundation Server (TFS). Hadirnya keluarga terbaru dari Visual
Studio tersebut merupakan langkah Microsoft dalam memimpin pangsa
pasar IDE (Integrated Development Environment), setelah mem-peroleh
penghargaan Inforworld 2006 Technology the Year Award untuk kategori
Best IDE. Dalam sesi ber-sama pers, Adrian Anwar, product group
manager Appli-cation Platform Microsoft Indonesia, menerangkan
bahwa era dan paradigma baru dalam pengembangan software telah
dimulai dengan adanya Visual Studio TFS. “Aset intelektual
yang berupa source-code yang selama ini hanya di kepala masing-masing
programmer dapat disentralisasikan dengan solusi TFS”.
Dijelaskan oleh Adrian,
TFS adalah sebuah solusi untuk organisasi TI, baik untuk perusahaan
yang memiliki tim pengembang software internal, pengembangan software
dengan outsourching maupun software house atau ISV (Independent
Software Vendor). Dengan dukungan beberapa fitur kolaborasi seperti,
issue tracking, QA, automated builds, penelurusan kegiatan project,
automatic bug feedback dan source-code control yang kuat, TFS
memberikan solusi kepada pengembang dimulai dari product manager,
developer, tester, sampai enduser.
(Ardi Winangun)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
CEO
Forum UBINUS
Bertempat
di salah-satu kampusnya di bilangan Keba-yoran Baru, Jakarta Selatan,
pada pertengahan Juli lalu, Universitas Bina Nusantara (BiNus)
menyelenggarakan “CEO Forum”, sebuah ajang diskusi
para pemerhati per-kembangan ICT di tanah air. Hadir sebagai pembicara,
Sekjen Depkominfo Ashwin Sasongko yang memaparkan topik “ICT
Indonesia: Mau Dibawa Ke mana?”, dengan moderator Richard
Kartawijaya, dari Aspiluki.
Dalam acara tersebut, BiNus mengundang para CEO dari perusahaan-perusahaan
yang bergelut dalam industri ICT sebagai peserta. Pembicara dapat
menyampaikan visi dan misi ke depannya dalam mewujudkan masyarakat
informasi yang sejahtera melalui penye-lenggaraan ICT yang efektif
dan efisien dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Se-kadar informasi, acara tersebut merupakan yang kedua diselenggarakan
oleh BiNus. Sebelumnya, perguruan tinggi ini telah menghadirkan
Sekretariat Menteri Negara BUMN, Said Didu.
Selama berlangsungnya acara, Ashwin memaparkan bagaimana perkembangan
ICT berjalan selama 30 tahun terakhir. “Sejak lama pemerintah
telah mulai mengerahkan pemikiran tentang ICT dan bagaimana transformasinya
bagi negara ini. Sekarang yang kita perlukan bagaimana semua itu
didukung dengan regulasi yang tepat,” ujar Ashwin.
(Ardi
Winangun)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Seminar Sharing Vision Regulasi Business
WIMAX
Wireless
Communication Research Community (WCRC) dan STT Telkom pertengahan
Juli lalu menyelenggarakan seminar “Sharing Vision Regulasi
Bisnis WiMax” di Hotel Preanger, Bandung. Seminar bertujuan
sebagai wacana dari semakin meningkatnya kebutuhan telekomunikasi
broadband multimedia yang juga diiringi dengan ber-bagai masalah
dimulai dari aspek regulasi, business scheme, teknologi pendukung,
dan lainnya.
Dihadiri oleh sekitar 40 peserta yang berasal dari pelaku industri,
pemerhati ICT, dan akademisi, seminar tersebut menghasilkan kesepakatan
bahwa penentuan frekuensi untuk BWA diserahkan kepada pemerintah
dengan mempertimbangkan faktor-faktor kepentingan telekomunikasi
nasional primer, economic scale, operator-operator BWA yang selama
ini beroperasi tanpa melanggar aturan yang ada dan telah membayar
pajak dengan baik serta memberikan lapangan pekerjaan.
Diharapkan pula, regulasi yang dibuat bersifat adil dan memberikan
share frekuensi 3,5 GHz untuk layanan satelit dan BWA. Pemerintah
dalam hal ini juga diminta segera menerapkan frekuensi yang tepat
untuk BWA tersebut dan adanya penetapan lisensi untuk frekuensi
yang di-share dan bersifat regional base. Misalnya, untuk Jabotabek
menggunakan 3,5 GHz digunakan untuk satelit dan di luar Jabotabek
menggunakan BWA.
(Chandra Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
CDMA 450 untuk Way Kanan
Qualcomm bekerja sama dengan Sampoerna
Telekom, Axesstel Inc., IndoNet, Departemen Komunikasi dan Informatika,
serta Kementerian Negara Percepatan Pem-bangunan Daerah Tertinggal
awal Juli lalu memper-kenalkan teknologi nirkabel CDMA450 di Way
Kanan. Teknologi ini memberikan akses layanan broadband nirkabel
untuk suara dan data. Program ini berlandaskan pada pembangunan
laboratorium komputer yang dileng-kapi oleh akses internet di
lima sekolah yang berada di kabupaten Way Kanan, yaitu di Buay
Bahuga, Negeri Besar, Negara Batin, Rebang Tangkas, dan Pakuan
Ratu. Selain itu, cellular kiosk atau warung seluler juga sedang
dibangun di 59 desa dan lima sekolah menengah untuk menyediakan
akses telekomunikasi yang lebih baik. Acara yang berlangsung di
Way Kanan, Lampung, itu dihadiri oleh Menkominfo Sofyan Djalil,
Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah
Yusuf, Presdir Sampoerna Telekom Michael Sampoerna, Senior Director
International Government Affairs Qual-comm Shawn A. Covell, dan
CEO Axesstel Marv Tseu,.
“Peluncuran inisiatif
Wireless Reach Qualcomm di Lampung ini mencerminkan komitmen ber-kelanjutan
Qualcomm dalam menyediakan akses teknologi nirkabel yang lebih
baik bagi komunitas tertinggal dan kami bangga dapat bekerja sama
dengan pemerintah Indonesia dan perusahaan-perusahaan terkemuka
dalam rangka membantu menghubungkan masyarakat di Lampung,”
ujar Shawn. Di sini, Axesstel menyumbangkan D450 modem broadband
untuk proyek Way Kanan agar laboratorium komputer di sekolah-sekolah
menengah dapat terhubung internet secara nirkabel dalam jaringan
450 MHz band CDMA2000 1xEV-DO dari Sampoerna Telekom yang memiliki
kece-patan hingga 2,4 Mbps.
(Ari)