Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

 
   

TONY CHEN
Memotivasi dengan Pertanyaan


Dalam beberapa kali kesempatan, Tony Chen, Presdir PT Microsoft Indonesia, acapkali melontarkan pertanyaan seperti ini: “Bahasa Indonesia saya sudah bagus, kira-kira sudah berapa lama ya saya tinggal di Indonesia.” Spontan, jawabannya beragam. Yang jelas, bila menyimak fasihnya ia berbahasa Indonesia, pasti ayah tiga anak ini sudah tinggal lama di Indonesia. “Memang saya sudah lama tinggal di Indonesia,” katanya membenarkan. Berapa lama? “Lumayan lama, sejak saya lahir,” tutur Tony sembari tersenyum.

Iya, bila melihat sosoknya, pasti kebanyakan orang mengira pria berkaca mata ini bukan orang Indonesia. Dari namanya saja, Tony Chen, semakin membuat orang salah menebak. Pada suatu kesem-patan, ketika ada kunjungan siswa dari sekolah informatika dari Banten ke kantor Microsoft, ia mencoba menanyakan kewargane-gaannya kepada mereka. “Ada yang bilang dari Hongkong, dari Singapura, pokoknya dari luar Indonesia, “ ceritanya.

Pertanyaan yang dilontarkan Tony, bukan sekadar iseng. Di balik itu, ia punya maksud. “Saya ingin meng-encourage mereka, bahwa orang Indonesia bisa bekerja dan memimpin perusahaan TI besar di Indonesia seperti Microsoft,” tuturnya tanpa bermaksud menyom-bongkan diri. Dengan cara seperti itu, Tony ingin memotivasi para siswa bahwa peluang untuk menjadi pemimpin di perusahaan TI papan atas terbuka lebar. (FR)

 
 
 
 
  EKO INDRAJIT
Pengen KTP Baru Dikirim Lewat Pos


Kesal dengan perilaku aparat penyelenggara layanan KTP, Eko Indrajit sampai berandai-andai, jika saja e-government diterapkan dengan baik di tanah air, ia tidak perlu repot-repot datang ke kantor pelayanan KTP. “Mereka kan pelayan masyarakat ya seharusnya mereka datang kepada kita, bukan kita datang ke mereka,” tukas pria kelahiran 24 Januari 1969 ini.

Eko juga membandingkan kinerja aparat negara dengan swasta, semisal perbankan yang melayani nasabahnya dengan maksimal. “Enak kali ya, kita setiap ada KTP baru dikirim lewat pos seperti kartu kredit. Kalau masa KTP kita akan habis pemberitahuan juga bisa lewat pos atau SMS (Short Message Service),” begitu angan-angan Eko yang sosoknya kerap dijumpai sebagai moderator atau nara sumber di seminar TI ini.

“Nah, asyiknya lagi kalau kita ingin memperbaharui foto KTP, kita juga tidak perlu datang ke kantor kelurahan atau keca-matan untuk difoto. Cukup jepret lewat ponsel terus langsung dikirim lewat MMS (Multimedia Message Service). Beres kan?” cerocos Ketua STMIK Perbanas ini sambil memperagakan dirinya dijepret ponsel berkame-ra. Entah kapan mimpi Eko itu bisa terlaksana. (Chandra Wirawan)
 
 

KEMBALI    l    ISI BUKU TAMU
Copyright © www.majalaheindonesia.com 2006