LAPORAN
PERJALANAN
DELEGASI INDONESIA KE APICTA 2006 MACAU
2 Merit Award untuk Pemicu APICTA 2008
Oleh: L.T. Handoko
Grup Fisika Teoritik
dan Komputasi – P2 Fisika LIPI, Jakarta
Salah satu pemenang APICTA Nasional 2006.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di
pagi hari yang cerah dan agak dingin akibat hujan malam sebelumnya,
rombongan Indonesia dengan jumlah 34 orang sudah berkumpul lobi
terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta. Rombongan dipimpin Pak Riyanto
Gozali dari Aspiluki, termasuk 4 orang juri Indonesia (Jos Luhukay,
Eko Indrajit, Sylvia Sumarlin, dan Richard Kartawijaya), 2 orang
officiall, dan 3 orang wakil Depkominfo. Setelah pembagian tas,
tiket dan jaket seragam, rombongan langsung cekin dan bergegas
memasuki ruang tunggu pesawat.
Perjalanan ke Hongkong dengan pesawat Garuda cukup singkat, hanya
4 jam. Namun, sesampainya di Bandara Internasional Hongkong waktu
sudah menunjukkan pukul 14.00, apa daya kami harus menunggu selama
lebih kurang 4 jam karena feri menuju Macau baru akan berangkat
pukul 18.00. Perjalanan dengan feri ke Macau hanya 1 jam, namun
dengan kepenatan selama menunggu di bandara, akses ke terminal
feri yang sangat tidak nyaman, angin dingin yang cukup kuat, ditambah
laut yang bergelora akibat air pasang dan sedikit badai, tak pelak
membuat sebagian besar anggota rombongan dilanda mabuk laut. Akhirnya
setelah naik bus jemputan selama lebih kurang 15 menit rombongan
tiba di Regency Hotel yang menjadi pusat lokasi penyelenggaraan
APICTA 2006.
Sebagian
anggota delegasi APICTA
dari Indonesia
Panjangnya perjalanan yang di luar dugaan ditambah kondisi setengah
mabuk laut membuat sebagian besar peserta lega saat mendapatkan
“makan malam gratis” di salah-satu restoran dengan
hidangan masakan Cina yang hangat. Meski harus berdesakan karena
hanya disediakan 3 meja, makan malam ini cukup membuat rombongan
merasa segar dan kembali bisa melontarkan aneka guyonan segar.
Praktis setiba di hotel pukul 22.00 seluruh anggota rombongan
bergegas cekin agar segera bisa masuk kamar dan beristirahat melepas
penat.
Acara keesokan hari (2 November) praktis kosong dan hanya melakukan
registrasi. Acara bebas, kecuali ketua delegasi dan para juri
yang memiliki beberapa agenda pertemuan pendahuluan. Beruntung
seluruh acara utama, kecuali acara dinner, diselenggarakan dalam
hotel sehingga praktis peserta tidak perlu keluar hotel. Sore
hari seluruh peserta diundang menghadiri acara pembukaan dan dinner
atas undangan pemerintah Macau. Acara diisi dengan pembukaan oleh
Gubernur Macau, pertunjukan seni dan makan malam formal. Rombongan
Indonesia diwakili oleh Ibu Loli dari Depkominfo. Tak lupa, segera
setelah kembali ke hotel, Ketua Delegasi mengumpulkan seluruh
peserta untuk melakukan briefing terakhir. Pengarahan dan aneka
tip berdasarkan pengalaman kompetisi sebelumnya diberikan oleh
Pak Riyanto Gozali dan semua juri asal Indonesia. Saat itulah
ketegangan mulai melanda sebagian besar peserta. Betapa beban
mental untuk membawa beberapa piala kemenangan ke Indonesia terasa
semakin berat.
Akhirnya tibalah acara puncak, yaitu kompetisi dimulai pada tanggal
3 dan 4, sejak pagi sampai sore hari. Presentasi dilakukan secara
paralel di 6 ruangan sesuai dengan kategori karya yang dilombakan.
Setiap peserta mendapatkan jatah presentasi selama 20 menit ditambah
10 menit tanya jawab dan 5 menit untuk persiapan sebelum presentasi.
Praktis kedua hari puncak ini diisi dengan presentasi. Meski demikian
tentu saja banyak anggota rombongan yang memanfaatkan waktu senggang,
terlebih bagi yang sudah selesai presentasi, untuk pergi keliling
Macau, atau bahkan ke Hongkong maupun Cina daratan.
Di antara waktu presentasi, delegasi Hongkong, Malaysia dan Singapura
secara proaktif melakukan pameran mandiri serta membuka meja informasi
yang menyediakan aneka brosur terkait dengan ICT di negaranya.
Rasanya hal semacam ini perlu dicontoh oleh delegasi Indonesia
dengan Aspiluki sebagai motornya. Terlebih motivasi utama acara
APICTA awalnya adalah sebagai ajang ekspose dan promosi produk
dan perusahaan terkait ICT ke luar negeri. Justru kompetisi aplikasi
hanya merupakan jembatan untuk mencapai hal tersebut. Sehingga
patut disayangkan bahwa teman-teman dari Aspiluki dan perusahaan
perangkat lunak peserta kurang memanfaatkan ajang ini untuk pemasaran
yang notabene sangat menguntungkan diri mereka.
Bahkan delegasi Hongkong dan Malaysia mengadakan sesi Esperience
Sharing dengan mengundang rekan-rekannya dari negara lain. Acara
yang merupakan ajang promosi ini nampaknya benar-benar sangat
direncanakan dan dimanfaatkan dengan baik oleh mereka untuk semakin
mengokohkan posisi. Tidak mengherankan bila selama ini Malaysia
dan Hongkong selalu merajai arena kompetisi ini sejak 1999. Nampak
sekali bahwa delegasi mereka sangat solid dan memiliki persiapan
yang matang dengan dukungan penuh pemerintah untuk mengikuti lomba
ini.
Situasi tersebut sangat kontras sekali dengan delegasi Indonesia,
yang sebagian besar anggota yang merupakan pemenang APICTA 2006
Indonesia harus berpusing-pusing untuk mencari sumber dana agar
bisa ikut dalam delegasi. Tetapi sebagai perbandingan, mungkin
Aspiluki dan Depkominfo bisa mencontoh TOFI (Tim Olimpiade Fisika
Indonesia) yang awalnya di tahun 1993 juga harus membanting tulang
untuk bisa mendanai dan mencari bibit melalui kompetisi lokal,
mempersiapkan dan memberangkatkan delegasi Indonesia ke ajang
internasional. Akhirnya sejak 2000-an kegiatan olimpiade fisika
dan sains lainnya sudah mendapatkan dukungan permanen dari Depdiknas
sehingga bisa menjadi kebanggaan nasional saat ini. Tentu saja
ini semua bisa terjadi karena TOFI mampu membuktikan prestasi
secara konstan sejak sebelum mendapatkan dukungan formal pemerintah.
Seharusnya, Aspiluki dan Depkominfo bisa melakukan dengan lebih
baik mengingat bidang ICT adalah bidang yang sangat probisnis
dan dekat dengan sumber ekonomi. Kalau perlu setiap peserta diberikan
proses pelatihan dan pematangan karya jauh hari sebelum diberangkatkan.
Ini persis seperti yang dilakukan oleh delegasi Malaysia, seperti
yang diceritakan salah seorang anggota delegasi mereka kepada
saya. Bila telah mampu membuktikan bisa meraih prestasi, diyakini
dukungan formal dari (misalnya) aneka pihak akan mengalir dengan
lebih mudah.
Akhirnya tibalah acara puncak. Pada acara ini Indonesia diwakili
juga oleh Dirjen Telematika Depkominfo, Cahyana Ahmadjayadi, yang
tiba sehari sebelumnya. Saat tiba acara pengumuman pemenang, seluruh
peserta dengan berdebar menyimak nama-nama yang diucapkan. Akhirnya
Indonesia berhasil membawa 2 Merit Award untuk kategori Education
and Training (PT Pesona Edukasi) dan Start-up (PT Sqiva System).
Sayangnya tahun ini belum terjadi peningkatan prestasi untuk tim
Indonesia sejak menjadi peserta APICTA. Selama ini Indonesia selalu
menjadi kuda hitam, meski dari jumlah peserta selalu menjadi minimal
4 besar diantara 12 negara peserta. Semoga 2 Merit Award yang
diraih bisa menjadi pemicu untuk meraih award yang sesungguhnya
ketika APICTA 2008 berlangsung di Indonesia. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------